Tampilkan postingan dengan label Ario Djatmiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ario Djatmiko. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Usai SBY Ajak Stop Mengeluh


Usai SBY Ajak Stop Mengeluh
Ario Djatmiko  Ketua Bidang Penataan Praktik Global Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia atau IDI
JAWA POS, 16 Mei 2013

"DI mata Tuhan, kita semua sama," begitu pesan Pak Saidun, guru ngaji di kampung. Pesan itu amat membekas. Karena itu, dalam forum apa pun saya selalu menghindari penggunaan kata buruh. Sebutan buruh jelas membawa konotasi manusia itu tidak sama meskipun buruh, pekerja, tenaga kerja, atau karyawan pada dasarnya sama. Yaitu, golongan manusia yang menggunakan kemampuannya untuk mendapat imbalan dari sang majikan. 

Apa yang membuat mereka berbeda? Buruh atau blue collar worker sebutan untuk tenaga kasar; menggunakan otot untuk mencari nafkah. Adapun karyawan, white collar worker atau kelas menengah adalah pekerja otak. Golongan pekerja terampil, berkemampuan khusus dan terdidik. Apa pun sebutannya, dua hal yang membuat mereka sama: penerima upah dan bisa di-PHK oleh sang majikan. 

Pada 57 tahun lalu, 1956, dengan bangga pemerintah Amerika mengumumkan bahwa jumlah white collar workers di AS telah melampaui blue collar workers. Artinya, jumlah pekerja otak telah melampaui pekerja otot. Mengapa bangga? Pertama, ini indikator paling bermakna dalam mengukur kemajuan suatu bangsa. Pemerintah bertanggung jawab mendidik rakyatnya agar siap menghadapi tantangan zaman. Kedua, momentum itu tercatat sebagai titik awal meningkatnya kesejahteraan pekerja di AS. Pendapatan pekerja otak memang jauh di atas upah tenaga kasar. Ketiga, pekerja otak adalah ujung tombak setiap negara dalam kompetisi dunia. Pekerja otaklah yang menjadi penentu perubahan produk manusia kini dan masa datang. 

Arah pembangunan manusia setiap negara sudah jelas: meningkatkan kualitas-kuantitas pekerja otak dan mengurangi jumlah pekerja otot. Negara dinilai gagal bila jumlah pekerja kasarnya terus meningkat dan pekerja otaknya tidak layak pakai atau kalah bersaing dengan tenaga otak negara lain. 

Ribuan tahun lalu Plato mengingatkan, tugas utama negara adalah mendidik rakyatnya. Benar, "gagal negara" tak lain bersumber dari kegagalan pemerintah dalam memproduksi manusia terdidik dan berkualitas global.

Dalam perjalanannya ke Jepang, Mei 1992, Thomas Friedman terkejut melihat pabrik mobil Lexus. Penulis terkemuka itu menyaksikan pabrik yang memproduksi 300 mobil sedan mewah per hari itu hanya dikerjakan oleh 66 pekerja dan 310 robot. Si pekerja hanya melakukan quality control, selebihnya dikerjakan robot. Lexus berarti kualitas! Artinya, quality control adalah bagian paling vital! Harus dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian tertentu dan dengan kepekaan sangat tinggi. 

Kisah itu menjelaskan: kian tidak ada tempat lagi untuk pekerja otot dan cut throat competition era telah hadir di ruang pekerja otak. Ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat. Semua berubah dengan kecepatan tak terbayangkan. Produk, cara produksi, promosi, cara transaksi pun berubah dan terus akan berubah. Tantangan semua negara: terus-menerus memproduksi manusia yang match atau mendahului kebutuhan zaman. 

Pada 2015, zaman baru hadir. Secara ekonomi, bangsa Indonesia berganti identitas menjadi komunitas ASEAN. Sebanyak 240 juta penduduk Indonesia menyatu dengan sepuluh negara menjadi 565 juta warga ASEAN. Tanpa batas, single market and single production based. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia pun akan berganti menjadi PDB ASEAN. Artinya, demi produktivitas semua hambatan harus dibasmi. Tidak ada lagi hak khusus bagi pekerja bangsa ini untuk bekerja di negerinya sendiri. Dan, persaingan terhebat terjadi di level pekerja otak. Sejak lama mereka (negeri jiran) tak memiliki tenaga kasar. Sumber daya alam Indonesia (milik bangsa Indonesia) bisa dieksplorasi habis demi kepentingan ASEAN.

"Berhentilah mengatakan tidak siap, berhentilah mengeluh. Mari kita lakukan sesuatu bersama agar Indonesia benar-benar siap," kata SBY sepulang dari KTT Ke-22 ASEAN di Brunei bulan lalu. SBY berinisiatif membentuk komite nasional yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serikat buruh, dan pakar yang relevan mempersiapkan diri menghadapi era baru. Sungguh niat baik yang harus dihargai. Sayang, momentum banyak hilang! Waktu tinggal dua tahun, negara lain telah jauh di depan, kita baru bicara inisiatif.

Silakan buka google, ketik: Malaysian Agriculture Research and Development Institute (Mardi). Lihat, 40 tahun lalu Malaysia telah membangun agroindustri dengan rapi. Mulai riset bibit unggul, penyiapan lahan, bimbingan tenaga ahli, akses keuangan sampai kemasan dan pengiriman. Tidak heran Malaysia kini merajai pasar makanan kemasan. Siap atau tidak siap adalah tentang fakta, data, dan perhitungan. 

Di laporan Asia University Rankings 2013, Top 100, tidak satu pun perguruan tinggi negeri ini tercantum di daftar. Mampukah white collar worker kita (lokal) bersaing dengan mereka, para pekerja otak lulusan universitas kelas dunia? Membangun pendidikan bukan urusan 1-2 tahun, membutuhkan waktu lama. Kita tak punya 40 tahun lagi, hanya tersisa dua tahun untuk berbenah. Sementara masalah besar terus mendera negeri ini.

Kita harus menerima fakta, peta tenaga kerja ASEAN menunjukkan: Indonesia (sangat) dikenal sebagai eksporter tenaga kasar terbesar. Tampaknya peringatan Bung Karno "De natie van de koelies en de koelie van de naties" (bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa) kian mendekati kenyataan. Mari kita tunggu inisiatif SBY. Kita tahu, pemimpin yang baik tidak berhenti sampai pada inisiatif saja, tapi juga bertanggung jawab merealisasikannya. Semoga SBY paham. 

Minggu, 29 Januari 2012

Dilema Arah Pendidikan


Dilema Arah Pendidikan
Ario Djatmiko, KETUA LITBANG IDI WILAYAH JATIM
Sumber : JAWA POS, 30Januari 2012


''YOU are what you produce.'' Itu kalimat Ayah saat melepas saya merantau. Nilai Anda sebagai manusia dilihat dari apa yang Anda bisa bikin (baca: produksi). Bagus produk Anda, bagus pula nilai Anda sebagai manusia. Begitu juga sebaliknya, jelek produk Anda, tentu nilai Anda sebagai manusia juga tidak akan bagus. Dan jelas, Anda tidak berarti apa-apa bila Anda tidak pernah memproduksi apa pun. ''Do your best, Nak.'' Ayah merangkul erat saat melepas saya di pelabuhan. Kalimat itu terus membekas dan saya anggap satu kebenaran mutlak tanpa cacat!

Sampai satu hari, saya tidak yakin lagi akan kebenaran kalimat itu. Ceritanya begini! Sebagai penasihat Surabaya Entertainer Club, saya beberapa kali menjadi juri pop singer, semacam American Idol gitu. Saat di final, penampilan, gaya, dan suara para finalis wuih, luar biasa! Sebagai juri, sungguh sulit memilih yang terbaik. Semua bagus, nyaris tanpa cacat. Kalau boleh jujur, banyak yang lebih bagus daripada penyanyi-penyanyi terkenal di TV. Lantas, mengapa mereka tidak bisa terkenal?

Tiba-tiba saya tersadar tentang satu hal: memproduksi dan menjual adalah dua hal yang berbeda! Banyak penyanyi bersuara bagus, tetapi tak laku dijual. Coba Anda ke Bali atau Jogja misalnya, berjuta patung, barang seni, batik, konveksi, kuliner, dan banyak barang lain yang dijajakan. Terkadang dengan memelas! Di situ jelas bagi Anda, menjual tidak lebih mudah daripada memproduksi.

Apakah kalimat Ayah itu salah? Bukan! Paradigma telah berubah. Saya ingin sedikit mengubah kalimat Ayah: ''You are what you sell.'' Tetapi, ternyata jual beli bukan proses yang sederhana lagi. Dan tampaknya, besaran laba kini seakan punya nilai sakral! Nah, paradigma apa lagi yang akan hadir?

Tidak Sama Lagi

Musim penerimaan mahasiswa masih jauh. Tetapi, nuansa promosi perguruan tinggi sudah amat terasa. Memilih bidang studi dan jenjang pendidikan jelas tidak sama dengan memilih barang. Pendidikan identik dengan masa depan. Tidak terlalu salah kalau kita katakan, tanpa pendidikan, Anda tidak memiliki masa depan. Stiglitz tegas mengatakan, kalau ada hal yang terpenting dalam hidup manusia, hanya satu, itu adalah pekerjaan. Dan, berbicara soal pekerjaan, itu jelas tentang pendidikan.

Calon mahasiswa yang masuk perguruan tinggi (PT) 2012 akan bertarung di pasar kerja pada tahun 2016-2017. Pelajar SMU yang saat ini duduk di kelas X akan bertarung di pasar kerja pada 2020. Pelajar SD yang saat ini duduk di kelas I bakal bertarung di pasar kerja pada 2026. Pertanyaannya: bagaimana model tata kerja dan lapangan kerja nanti pada tahun-tahun itu? Mampukah PT di negeri ini memproduksi tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasi-kompetensi yang dibutuhkan di era itu?

Pekerja back office di Australia kini gelisah, mengapa? Sebagian besar pekerjaannya telah dikerjakan di Bangalore, India. Offshore telah menjadi kenyataan. Itu berarti pemutusan hubungan kerja tinggal menghitung hari. Bila Anda ke-toko di Melbourne, New York, London terasa ada yang berubah. Jumlah kasir yang duduk di pintu keluar toko menurun drastis, mesin bayar telah menunggu Anda. Cukup mendekatkan label harga ke mesin, harga tertera dilayar dan gesek, selesai! Di Bangalore, Mumbai, dan kota lain di India, para dokter ahli radiologi menekuni komputernya 24 jam, membaca foto radiologi dari seluruh belahan dunia. Lihat, kehadiran robot telah merampas sebagian besar pekerjaan manusia.

Universitas Free Berlin membawa berita gembira. Test drive mobil VW sukses menempuh 20 km tanpa sopir, melewati lalu lintas padat tengah kota, 46 lampu stop. Tinosch Ganjineh, pimpinan proyek dengan bangga berkata, mereka telah mengantongi izin untuk test drive 1.000 km, akan dilakukan Juni tahun ini. Apa artinya? Profesi sopir di masa mendatang bukanlah profesi yang aman lagi. Benar, pemahaman baru telah hadir dan harus kita terima: tidak ada pekerjaan yang aman lagi di muka bumi. Pasar kerja terus bergerak tanpa pola dan amat mengerikan. Allan Greenspan menyebut itu arus turbulence.

Strategi Pendidikan

Tentang ancaman kerja, Tony Cleaver menerangkan dengan amat sederhana. Pengangguran akan hadir bila: pertama, kompetensinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Program PM Tony Blair, menggalakkan pendidikan sarjana secara masal, ternyata menimbulkan masalah. Sarjana yang tidak sesuai dengan kebutuhan kerja terlalu banyak diproduksi. Akibatnya, mismatch unemployment tinggi dan beban negara meningkat tajam.

Sebagai mesin produksi skill worker, PT harus terus-menerus mengamati tren pasar kerja. Mengantisipasi, bahkan harus terdepan menjadi trend setter. Untuk itu, tugas riset PT menjadi tumpuan. Tanpa riset yang futuristis, PT tidak akan mampu memproduksi manusia masa depan. Kedua, bila satu jenis produk barang atau jasa tidak diminati lagi. Contoh, kehadiran iPad benar-benar memukul Borders, pembaca beralih ke iPad dan toko buku kondang itu terpaksa gulung tikar. Karyawan Borders akan ke mana? Ketiga, jarak teknologi (technology gap). Benar, teknologi telah merambah ke semua bidang kerja. Bila Anda tidak mampu bekerja -efisien, cepat, tepat, dan terukur-, para pekerja di Bangalore atau robot siap menggantikan Anda setiap saat. Bagaimana peta peluang kerja nanti?

Pekerjaan rutin dan monoton pasti lenyap. Offshore untuk knowledge based worker, mencengkeram dunia. Artinya, lulusan PT di negeri ini harus mampu masuk jejaring global yang amat selektif dan amat kompetitif. Itu tidak mudah! Atau, Anda memilih menjadi entrepreneur, manusia unggul bermental baja yang jeli melihat peluang, inovatif, dan amat kreatif. Nah, sisi mana manusia yang kini harus dikembangkan agar manusia Indonesia survive? Lihat, para calon mahasiswa terus mengalir ke PT dengan penuh harap. Hai, para petinggi perguruan tinggi, Anda harus segera menjawab.