Tampilkan postingan dengan label Mobil Esemka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mobil Esemka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Mengedepankan Merk Pribadi


Mengedepankan Merk Pribadi
Susidarto, PEMERHATI MASALAH MANAJEMEN
Sumber : SUARA MERDEKA, 27Januari 2012



JOKOWI, panggilan akrab Joko Widodo, Wali Kota Solo sejak 2005 beberapa kali membuat gebrakan populis demi kemajuan daerah yang dipimpinnya, dan terkini ia membuat kejutan dengan memilih Esemka, mobil rakitan siswa SMK, sebagai mobil dinas. Langkah itu tidak biasa dilakukan oleh para pemimpin negeri ini.

Dalam raker dengan Komisi VI DPR (SM, 26/01/12), sikap itu menuai pujian. Sejumlah wakil rakyat menyatakan langkahnya perlu didukung tanpa harus mempermasalahkan apakah produk itu nantinya bernama mobnas atau mobil rakyat. Yang terpenting kendaraan itu mengandung minimal 40% komponen lokal.

Dalam konteks Esemka, langkah Jokowi bukan sekadar pencitraan diri melainkan personal branding yang memang perlu dibangunnya. Personal branding adalah proses atau cara yang dilakukan seseorang (dalam karier atau pekerjaannya) untuk dimerekkan atau disimbolkan sehingga menjadi brand.

Ibarat sebuah produk, Jokowi memandang perlu memperkenalkan ’’mereknya’’ secara luas, dalam konteks membanggakan. Publik pun bisa melihat dari contoh kesederhanaan memakai mobil dinas yang usianya sudah 11 tahun, tidak korupsi, tidak menikmati gajinya untuk keperluan pribadi, prolingkungan dengan mencanangkan car free day tiap Minggu, dan serangkaian langkah berkarakter lainnya.

Personal branding lebih dari sekadar upaya pencitraan yang hanya bersifat pendek, sesaat, dan memiliki agenda tertentu. Hal itu berbeda dari personal branding yang lebih bersifat jangka panjang, abadi, dan tidak selalu terkait dengan agenda tertentu, baik ekonomi, politik maupun agenda lainnya.

Produk Lain

Penulis melihat fenomena itu dalam konteks membangun personal branding sebagai  pemimpin prorakyat, prolingkungan, dan pro heritage lewat moto ’’Solo Masa Kini adalah Solo Masa Lalu’’,  pemimpin yang bersih dan sebagainya, seiring dengan berbagai prestasi yang diraihnya. Bahkan yang terkini dia menunjukkan sebagai pemimpin yang cinta produk Indonesia.

Banyak perubahan yang dibuatnya sepanjang kariernya sebagai kepala daerah. Dia membuktikan dicintai rakyat, terbukti ’’tanpa kampanye’’ ia dan pasangannya kembali terpilih memimpin Kota Solo, dengan perolehan suara 90%. Fakta yang tidak bisa dimungkiri.
Bahkan saat warganya mendengar ia melangkah ke jenjang politik berikutnya sebagai calon gubernur DKI Jakarta, mereka nggondeli (tidak merelakan-Red). Inilah penjabaran personal branding yang menunjukkan ia juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Publik meyakini, di mana pun dia menjabat dan ditempatkan, akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik, seiring dengan personal branding yang disandangnya.
Ke depan, negeri ini, termasuk dalam lingkup daerah, amat membutuhkan sosok dan figur pemimpin sekelas dan sekualitas dia, supaya bisa membawa biduk besar Indonesia ke arah yang lebih baik dan sejahtera.  Karena itu, keputusannya menggunakan Esemka sebagai mobil dinas selayaknya mendapatkan apresiasi.

Pejabat negara di pusat seyogianya mengikuti jejak Jokowi, tidak sebatas mobil tapi untuk produk lain semisal pakaian, tas, sepatu, kursi dan sebagainya, yang sejatinya tak kalah desain dan kualitasnya dari produk luar negeri. Kursi buatan perajin Jepara tak kalah dari produk luar negeri, sebagaimana kursi impor untuk ruang Banggar DPR yang harganya jauh lebih mahal. 

Kita harus bangga terhadap produk nasional, tidak sekadar mewacanakan tapi dalam tindakan nyata. Langkah itu bisa dimulai dari para pemimpin sebagai anutan, dengan membuktikan bahwa ia memakai dan membanggakan produk anak bangsa. 
Bukan hal yang sulit untuk mewujudkan kecintaan terhadap produk nasional yang berkualitas karena persoalannya hanya pada kemauan untuk memulai.

Rabu, 18 Januari 2012

Mobnas dan Kompetisi Global


Mobnas dan Kompetisi Global
Mudi Kasmudi, PRAKTISI INDUSTRI, ENERGI, DAN PERTAMBANGAN
Sumber : SINDO, 19 Januari 2012



Di awal 2012 ini, berita media cetak dan elektronik didominasi seputar pemberitaan keluarnya mobil Kiat Esemka. Komentar masyarakat, tokoh-tokoh nasional, tulisan, dan artikel memuat antusiasme akan lahirnya mobil nasional (mobnas).

Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini merindukan dan bangga akan lahirnya produk teknologi hasil karya anak bangsa yang selama ini didominasi produk-produk impor. Mobil Esemka, GEA-Inka, Tawon,dan Kancil,dengan adanya perdagangan bebas seperti AFTA dan WTO, sudah tidak bisa diproteksi seperti dulu lagi. Kesemuanya harus bisa berkompetisi di pasar domestik dengan produk automotif global,baik yang kecil maupun yang raksasa.

Selain itu,sebelum dijual ke pasar,mobnas harus melakukan uji keselamatan agar tidak membahayakan konsumen dan menghindari klaim dalam jumlah besar. Faktor keselamatan adalah yang paling utama. Sebagai contoh, antara 1999 hingga 2001, Ford dan Firestone mengalami kerugian besar yang timbul akibat Ford-Explorer mengalami ratusan kecelakaan yang menyebabkan kematian. Antara 2009 hingga 2010, raksasa automotif dunia Toyota merecall jutaan mobilnya karena masalah rem dan pedal gas yang menye-babkan kecelakaan.

Toyota menghadapi tuntutan pengadilan California dan Kongres AS yang mengakibatkan terpuruknya saham Toyota di bursa saham Nikkei Jepang. Untuk dapat berkompetisi dengan industri automotif global,mobnas harus dibangun dengan modal yang kuat untuk mencapai skala ekonominya.

Tentunya harus didukung dengan infrastruktur yang baik seperti manajemen industri komponen, leasing dan bank, jaringan distribusi, purnajual, dan suku cadang. Kompetisi yang ketat di pasar automotif membawa beberapa industri automotif dunia diterpa krisis keuangan. Contohnya Mazda, pada 1990 dan 1998, sebagian sahamnya diambil alih Ford. KIA pada 1998 diambil alih Hyundai dan Volvo pada 1999 diambil alih Ford.

Contoh lain adalah apa yang dialami Proton, industri automotif dari negara tetangga kita,Malaysia. Diberlakukannya perdagangan bebas menjadikannya harus bersaing dengan produk Jepang dan Korea.Proton sempat hampir diambil alih VW-Jerman yang pada akhirnya diselamatkan Pemerintah Malaysia.

Di Tengah Kompetisi Global

Industri automotif dunia saling bersaing satu sama lain untuk memperebutkan pasar sekalipun sesama produsen satu negara. Agar tetap bersaing, industri automotif membuat berbagai strategi agar tetap eksis dan terhindar dari kebangkrutan. Agar tetap kompetitif di pasar,GM dan Ford menginvestasikan 5% lebih dari penjualan tahunan untuk R&D dan pengembangan produknya.

Chrysler, GM, dan Ford pada 1990-an, ketika produk automotif Jepang membanjiri pasar AS dan Eropa, melakukan restrukturisasi industri komponen dari ribuan menjadi hanya ratusan. Adapun industri automotif China melakukan perampingan jumlah industri automotifnya dari 20 grup besar menjadi beberapa grup seperti FAW, Dongfeng, SAIC, TAIC,Yuejin Auto-Group, dan Heavy Vehicle Group.

Kompetisi yang ketat membuat industri automotif dunia melakukan langkah aliansi strategis dan merger. Sebagai contoh,pada akhir 1990,Daimler merger dengan Chrysler yang dikenal dengan megamerger dengan total aset USD160 miliar. Yang lainnya melakukan aliansi strategis seperti Renault dengan Nissan dan Samsung, Mitsubishi dengan Hyundai,Toyota dengan Daihatsu, GM dengan Isuzu, Suzuki,Subaru,dan Opel.

Tahapan Mobnas dan Industri Automotif

Proses dan tahapan mobnas tidak bisa dibandingkan dengan industri mobil Jepang, Eropa, dan AS.Mereka adalah generasi pertama industri automotif dunia.Tahapan yang bisa dibandingkan adalah dengan industri automotif Malaysia, Korea, Taiwan, China, dan India. Mereka menggunakan strategi partnership, joint venture (JV),dan akuisisi untuk transfer teknologi dan manajemen industri komponennya.

Beberapa contoh adalah sebagai berikut.Pertama,Malaysia. Industri automotifnya yang dikenal adalah Proton dan Perodua.Proton yang didirikan pada 1983 pada masa Mahathir Mohamad adalah JV antara BUMN dengan Mitsubishi. Pada 1996, Proton mengakuisisi Lotus Group International dan pada 2005 mengakuisisi MV Agusta Italia.Adapun pesaingnya, Perodua, berpartner dengan Daihatsu.

Kedua,Korea Selatan.Industri automotifnya yang terbesar adalah Hyundai dan KIA. Hyundai berdiri pada 1967 dengan memeganglisensi auto-assembly dari Ford.Ketika Hyundai ingin mengembangkan mobil sendiri, Hyundai mempekerjakan eksekutif, ahli mesin dan desain dari Austin Morris Inggris.Pada 2000 mereka membuat aliansi strategis dengan Daimler Chrysler untuk mengembangkan truk.

Adapun KIA berpartner juga dengan Ford, tetapi pada saat krisis Asia,KIA diakuisisi Hyundai. Kini Hyundai-KIA adalah produsen automotif nomor 4 terbesar dunia. Ketiga,Taiwan.Pada 1958 berdiri YueLoongCodengan lisensi dari Nissan. Dan antara tahun 1967 hingga 1969,menyusul JV Lio-Ho dengan Toyota,sedangkan San-Fu, Sam-Yang, dan China Motors bekerja sama dengan industri automotif Jepang lainnya.(Sun et.al,2001).

Keempat, China. Pemerintah China dikenal paling agresif melakukan JV dengan industri automotif global.Antara tahun 1981 hingga 1998, lebih dari 600 JV dilakukan di industri automotif dan komponen (Sutherland, 2003).Sebagai contoh,GM dengan SAIC,Ford dengan Changan Auto-Group, Citroen dengan Dongfeng, begitu pula industri komponen lainnya.

Di samping melakukan aliansi strategis dan JV,industri automotif baru Asia melakukan akuisisi perusahaan yang sudah maju. Contohnya, pada 2008, Tata Motors-India mengakuisisi Jaguar dan Land Rover dari Ford dan Geely Automobile- China mengakuisi Volvo dari Ford pada 2010. Apabila Indonesia ingin membangun industri mobnas, sudah selayaknya belajar dari pengalaman beberapa negara di atas.

Langkah terbaik adalah dengan melakukan strategi partnership, JV, dan akuisisi agar cepat mendapatkan transfer teknologi,manajemen,dan mampu berkompetisi di pasar domestik terlebih dahulu sebelum berkompetisi di pasar global.

Senin, 16 Januari 2012

Mengapresiasi Mobil Esemka


Mengapresiasi Mobil Esemka
Abdul Haris, KEPALA DINAS TENAGA KERJA DAN SOSIAL, KOTA DEPOK,
ALUMNUS CARNEGIE MELLON UNIVERSITY, AS
Sumber : SUARA KARYA, 17 Januari 2012



Fenomena mobil Kiat Esemka sangat menarik dan bisa menjadi contoh kasus predikat good job, excellent job atau malah 'cibiran'? Dengan berhasilnya siswa SMK di Solo, Jateng merakit mobil Esemka, seyogianya predikat good job atau excellent yang semestinya diperoleh. Tetapi, kejadian di Republik ini terbalik. Ada memang pihak yang mengapresiasi dan memuji, tetapi juga tidak sedikit 'cibiran' atau keraguan yang datang secara bersamaan dari kalangan yang berbeda.

Mengapa fenomena ini menarik untuk dibicarakan? Karena, fenomena ini menyangkut karakter, motivasi dan kemajuan berpikir suatu individu atau masyarakat atau bahkan suatu bangsa. Betapa tidak, sekelompok siswa SMK yang telah berhasil membuat mobil, direspon dengan positif oleh sebagian kalangan. Antara lain, Walikota Solo yang dengan sukarela menggunakan mobil tersebut sebagai kendaraan dinasnya sebagai salah satu bentuk apresiasi nyata terhadap hasil kreasi anak bangsa.

Sementara sebagian kalangan lainnya justru 'mencibir' hal itu dengan anggapan bahwa itu adalah sesuatu yang tidak pantas. Dan, ada juga sebagian yang meragukan kelayakan mobil tersebut, padahal belum melihat, apalagi menggunakannya. Bukankah sikap macam ini sama saja dengan tidak menghargai karya anak bangsa?

Marilah kita bandingkan dengan suatu contoh baik yang terjadi di suatu bangsa yang lain, katakanlah di Amerika Serikat (AS). Seorang siswa yang mengerjakan latihan membuat karya dalam mata pelajaran tertentu, lantas dinilai oleh gurunya. Biasanya apa pun hasilnya diberi nilai antara good job dan excellent. Siswa yang membuatnya dengan hasil terburuk pun akan diberi predikat good job. Sedangkan siswa yang mengerjakan dengan hasil sangat baik akan mendapatkan predikat excellent. Semuanya ditulis besar pada kertas hasil pekerjaan mereka. Tentu, semua ini akan mempunyai makna tersendiri.

Mengapa demikian? Karena, yang pertama dihargai adalah niat baik dan upayanya mengerjakan pekerjaan tersebut. Yang kedua, untuk memberikan semangat kepada yang bersangkutan hingga dapat mengerjakan perbaikan jika ada kesalahan, atau memberi semangat untuk mengerjakan pekerjaan lainnya. Dengan demikian, diharapkan dorongan itu akan menciptakan produktivitas dan kemajuan berkarya. Jika tidak demikian, maka yang akan terjadi adalah sebaliknya, seperti demotivasi, deproduktivitas, dan kemunduran berkarya.

Oleh karena itu, respon secara proporsional dan konstruktif terhadap karya anak bangsa semacam siswa SMK dan kelompoknya perlu dikemukakan. Demikian pula terhadap produk hasil karya mereka pun perlu dihargai. Caranya dengan memberikan dorongan, semangat dan apresiasi terhadap inisiatif dan upaya mereka, dan kemudian terhadap hasil karya mereka. Terlepas dari apakah proses maupun hasilnya sempurna atau tidak, yang jelas sudah ada produknya. Kemudian, keberpihakan terhadap produknya melalui pembelaan konkrit, di antaranya dengan mempromosikan produknya, dan akan lebih baik lagi kalau bisa dan mampu untuk menggunakannya. Sikap dan tindakan optimis ini telah diberikan oleh Walikota Solo atas kehadiran mobil Esemka.

Bagaimanapun kita perlu menghindari atau paling tidak, lebih membatasi untuk menggunakan mobil impor, jika kita sudah memiliki mobil nasional. Karena, hal itu akan memberikan kemudahan, menghindarkan persoalan ekonomi, dan menguntungkan banyak pihak.

Kurangi Pengangguran

Produksi mobil nasional akan menciptakan kesempatan kerja dan menyerap tenaga kerja yang otomatis dapat mengurangi pengangguran, salah satu persoalan nasional yang sangat krusial saat ini. Pengurangan pengangguran dapat dipastikan akan berdampak bisa mengurangi kemiskinan. Sementara pengurangan pengangguran dan kemiskinan tentunya akan mencegah terjadinya kriminalitas seperti yang kini kian marak terjadi.

Begitu juga dari suku cadang, kalau bisa memakai produk lokal sudah barang tentu akan menghidupkan perekonomian bangsa sendiri. Sekaligus, menambah kesempatan kerja. Bukankah kalau membeli mobil impor hanya akan memperburuk neraca perdagangan negara? Apalagi, kalau sampai impor lebih besar, tanpa diimbangi dengan peningkatan ekspor yang lebih tinggi. Di lain pihak, produk mobil nasional dengan harga yang lebih murah, tentu akan meringankan beban masyarakat yang menggunakannya.

Akhirnya, untuk mengurangi pemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan devisa negara, hasil karya anak bangsa seperti mobil Esemka dan produk lain yang sejenis perlu didukung dan didorong pengembangannya. Dalam hal ini, dukungan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sangat diperlukan, baik dari segi produksi, promosi, maupun penggunaannya. Harus dihindari berbagai komentar sinis, sikap pesimis dan tindakan destruktif yang dapat melemahkan mental anak-anak bangsa dalam berkarya hingga berdampak dapat menghambat produksi dan perkembangan mobil nasional.

Saat ini banyak anggota masyarakat, pejabat, dan selebritis beramai-ramai memesan mobil Esemka. Bahkan muncul desakan untuk memproduksi Esemka secara massal sebagai cikal bakal mobil nasional. Apalagi, pelajar SMK yang ada yakin mampu memproduksi mobil Esemka dalam jumlah besar, melalui kerja sama antar-SMK dengan industri dan pemerintah.

Pemerintah pun rasa-rasanya perlu membantu investasi peralatan teknologi terbaru untuk pembuatan Esemka ke depan agar lebih sempurna, sekaligus untuk melengkapi peralatan yang sudah ada di SMK. Dengan demikian, Esemka dapat diproduksi secara massal sehingga dapat memenuhi kebutuhan bangsa sendiri, menuju kemandirian bangsa Indonesia. Semoga.

Kamis, 12 Januari 2012

Esemka dan Model Kepemimpinan

Esemka dan Model Kepemimpinan
Pamungkas Ayudhaning Dewanto,  RESEARCH ASSOCIATE
PADA INSTITUTE FOR BUSINESS AND DIPLOMATIC STUDIES (IBDS) BINUS UNIVERSITY
Sumber : SUARA MERDEKA, 13 Januari 2012


”Penataan sistem industri manufaktur, memerlukan kerja integratif dengan melibatkan sektor perindustrian, perdagangan, dan juga iptek”

BEBERAPA waktu lalu perhatian publik tertuju pada langkah Wali Kota Solo Jokowi yang memilih menggunakan mobil dinas Kiat Esemka, rakitan siswa SMK Negeri 2 dan SMK Warga Surakarta yang difasilitasi bengkel Kiat Klaten. Ada beberapa respons unik terutama di kalangan kepala daerah lainnya. Tidak sedikit di antaranya mencibir dan menyebutnya sebagai tindakan narsistik atau cari perhatian. Namun ada yang termotivasi untuk memimpin dengan lebih baik lagi.

Terlepas dari maksud apa pun, sikap Jokowi merupakan sekelumit upaya sebagai tokoh yang memiliki kewenangan tertinggi di wilayah kerjanya untuk melakukan beberapa terobosan pembangunan di daerah. Contoh kepemimpinan Jokowi sekaligus membedakan terminologi negara di mata pebisnis (corporate) dan praktisi sosial (social engineer).

Pebisnis pada umumnya mempersepsikan negara sebagai perusahaan besar, dan kreativitas CEO mempengaruhi besar kecilnya pendapatan. Dalam perusahaan, efisiensi adalah salah satu cara mutakhir menjawab tantangan itu. Tujuan utamanya memperbesar keuntungan bagi pemegang saham dan pengelola, adapun kesejahteraan pekerja masuk ranah efisiensi (pemangkasan).

Hal itu berbeda dari praktisi sosial yang memasukkan variabel ”kesejahteraan pekerja” di dalamnya. Artinya, di samping mementingkan pertumbuhan, juga memikirkan implikasi sosial pada peningkatan kesejahteraan warga (pekerja), dengan menomorduakan pendapatan (keuntungan). Jika suatu kebijakan dirasa meningkatkan pendapatan tapi tidak berdampak pada kesejahteraan maka seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan tegas. Inilah yang dinamakan keputusan politik.

Perakitan mobil Esemka ini seharusnya disambut dengan penuh semangat karena menyiratkan lahirnya sumber pertumbuhan baru, sekaligus memupuk SDM di daerah. Fenomena ini seharusnya mendapat insentif ekonomi secara struktural. Misalnya, negara memfasilitasi investor yang mampu membiayai industri perakitan mobil yang berskala lebih besar sehingga berpotensi untuk pasar ekspor.

Kebijakan Integratif

Contohnya, industri otomotif China semula hanya terdiri atas perakit mobil skala kecil. Namun dengan dukungan pemerintah, perusahaan otomotif raksasa sekaliber General Motors dan Chrysler telah memercayakan sebagian besar perakitan kendaraannya bekerja sama dengan Shanghai Automotive Industry Company (SAIC) di China. Bahkan merek-merek China, seperti BYD kini banyak ditemui di California, AS. Kerja integratif semacam ini harus dimulai dengan komitmen politik jangka panjang kementerian dan pemda yang terkait.

Tentu dalam hal teknologi, kita tidak perlu malu meniru inovasi yang dilakukan negara lain. H Sukiyat, putra Klaten, pemilik bengkel Kiat Motor Klaten pun menerapkan 3N (niteni, niroke, nambahi-memperhatikan, meniru, dan menambah) yang sebetulnya mencerminkan keberanian tekad yang harus menular ke tiap pelaku bisnis dan pemerintahan di negeri ini. Revolusi Industri Amerika Serikat pada awal abad ke-19 pun diawali oleh inisiatif Francis Cabott Lowell dengan mengembangkan alat tenun yang ditirunya dari Inggris.

Negara seharusnya menjadi stimulator atas tiap inovasi yang berkembang di masyarakat. Penataan sistem industri manufaktur, memerlukan kerja integratif dengan melibatkan sektor perindustrian, perdagangan, dan juga iptek. Indonesia telah dinaikkan peringkat utangnya menjadi layak investasi.(Presiden) Indonesia pun mendapatkan pujian internasional atas prestasinya pada bidang demokratisasi dan keterbukaan ekonomi menuju era pasar bebas.

Namun Presiden lupa bahwa era persaingan bebas mensyaratkan fondasi ekonomi kokoh. Artinya, sistem permodalan yang arif, pembangunan klaster-klaster industri, perlindungan usaha kecil, dan distribusi bahan baku dan energi yang mewadai harus tercipta terlebih dahulu.