Tampilkan postingan dengan label Arswendo Atmowiloto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arswendo Atmowiloto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Maret 2014

Mendadak Kampanye

Mendadak Kampanye

Arswendo Atmowiloto ;   Budayawan
KORAN JAKARTA,  29 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Tema kampanye pileg masih akan terus berlangsung sampai masa tenang. Mendadak atau tidak, seolah semua kegiatan hanya soal kampanye belaka. Jalanan yang kita lalui full baliho, poster, seruan. Juga di jalan kampung yang masih tersisa pohon atau dinding kosong, atau bisa dipasangi spanduk.

Media massa—ya televisi, ya radio, ya media cetak, ya media sosial—menerjemahkan kampanye dalam berita, dalam iklan, dalam liputan, dalam laporan khusus. Segala hal yang berbau kampanye ditampilkan: dukun politik, aksi nyentrik cara unik menarik perhatian, sampai dengan munculnya sales promotion girls , SPG, nama caleg.

Masing-masing kegiatan ada beritanya, ada komentarnya, ada kritiknya. Di balik yang terlihat, banyak diskusi soal yang kurang lebih sama. Hasil dari diskusi atau seminar ini nantinya melebar dalam pemberitaan, lengkap dengan segala opini dan jawaban jika dianggap tidak seperti yang dimaksudkan.

Saya yang tidak kampanye, dan bukan tim kampanye – atau yang mirip dengan pekerjaan itu, sudah di-booking hingga tanggal 9 April nanti untuk ngomong soal kampanye atau bukan bukan kampanye—hitam atau abu-abu.

Saya termasuk yang meragukan keefektifan kampanye model baliho atau “hantu pohon”, yang mendadak muncul dan meminta doa restu. Bukan hanya karena tak mengenal siapa dianya, juga tak jelas pesan yang disampaikan. Komunikasi mengisyaratkan kesetaraan dua pihak. Dalam banyak contoh disebutkan seorang polisi yang memeriksa tersangka kriminal—pembunuhan atau penjambretan—bukan bentuk yang seimbang. Demikian juga dengan wajah gagah atau cantik para caleg yang menawarkan diri dalam busana yang barangkali malah sulit dikenali. Apa lagi nanti di lermbar kertas yang dicoblos.

Bahkan, dalam hati saya juga meragukan hasil kampanye yang dianggap besar-besaran seperti apel besar sekalipun. Bukan karena apa melainkan justru jalan pikiran berbeda yang muncul. Jangan-jangan yang dikumpulkan ini “orang-orang bayaran”, yang sah-sah saja dan menjadi mata pencaharian bagi mereka ketika juga tampil untuk partai politik lain. Atau jalan yang menjadi macet. Atau, untung sekarang tidak terjadi, ribut di jalanan.

Dalam pikiran saya: apa iya calon pemilih ini bisa berubah pikiran hanya karena kampanye sesaat itu? Apakah bukannya calon pemilih, pemula sekali pun, sudah memiliki pilihan partai politik mana yang akan dipilih? Atau tak dipilih. Mungkin ini jalan pikiran saya yang kurang menyenangkan bahwa justru kampanye oleh tokoh tertentu dari parpol tertentu bisa berbalik menghantam dirinya jika tak cukup bijak. Jika misalnya melakukan serangan, atau kritik yang selama ini digolongkan SARA? Lebih buruk dari itu semua adalah: pada masa kampanye seperti ini muncul berita atau gambar yang “miring” , yang menyudutkan, yang akan susah dibantah oleh konferensi pers sekalipun. Ada banyak energi dan biaya yang terkuras, hanya untuk menutup atau menghapus coretan yang tak perlu ada.

Demikian juga “kampanye alami” yang dilakukan tanpa sengaja pada masa lalu, katakanlah track record, yang menjadi ingatan publik. Kampanye alami yang mungkin tidak dimaksudkan sebagai kampanye ini dalam bayangan saya jauh lebih berkesan, jauh lebih menentukan penilaian untuk menjatuhkan pilihan, dibandingkan kampanye sesaat.

Tidak berarti kampanye sekarang tak berarti. Justru gelombang yang terjadi menyenangkan: banyak warga mendapat tumpangan gratis menuju lapangan, mendapat makan siang, syukur kaus dan uang saku, dihitung per kepala, mungkin juga hiburan musik—yang bagi musisi pun kebagian rezeki. Juga para pengatur kegiatan, yang menyewakan kursi atau pengeras suara, yang membuat sablon. Dan semua oke-oke, serta baik dan benar adanya.

Kita nikmati saja.

Minggu, 23 Maret 2014

Memaafkan

Memaafkan

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
KORAN JAKARTA,  22 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Maaf adalah kata yang indah. Dan memaafkan, sebagai bentuk aktif, sebagai kata kerja, bukan hanya indah, melainkan juga mulia dan sekaligus sakti. Memberi maaf kepada orang yang jahat, yang membelitkan rasa ketidakadilan pada kita, adalah positif dan memberi pencerahan di tahun politik yang serba-meniadakan lawan ini.

Saya menemukan pengertian yang membumi ini pada pasangan, Suroto dan Elizabeth, pada suatu pertemuan. Pasangan ini adalah orang tua dari anak semata wayang bernama Sara Angelina, yang menjadi korban rekan sekolah. Sara diduga dibunuh secara kejam tanpa alasan yang mudah diterima akal sehat. Sekurangnya, itulah kegeraman saya ketika menuliskan di rubrik ini, Sabtu lalu.

Saya merasa peristiwa pembunuhan ini sedemikian absurd, tanpa makna, hanya kesia-siaan yang menyengsarakan. Bagi pasangan remaja yang merencanakan dan mengakui melakukan pembunuhan ini, hanya akhir kesengsaraan yang menunggu— tidak bersama-sama sebagai sepasang kekasih, melainkan di ruang dan dinding beku yang berbeda tempat.

Saya tak kenal secara pribadi dengan Sara atau kedua orang tuanya, tapi bisa merasa sangat geram, menyesalkan, merasa terlecehkan nilai kemanusiaan saya, sehingga sempat bertanya-tanya: apa makna dari peristiwa ini kalau hanya membuat kita lebih kecewa dan kehilangan kepercayaan kepada sesama?

Sampai beberapa hari lalu bertemu dengan Suroto dan Elizabeth— juga teman-teman kuliah Sara, berjabat tangan, dan pada kesempatan yang diberikan, saya menceritakan apa yang saya tulis di Koran Jakarta kepada semua yang hadir. Yang hadir adalah mereka yang diundang oleh Irwan Hidayat, direktur utama Sido Muncul, yang memprakarsai iklan layanan masyarakat versi “memaafkan”.

Saya sampaikan: bahwa maknanya tidak sepenuhnya sia-sia, justru karena ada sepasang suami-istri yang memaafkan pelaku-pelaku pembunuhan. Tumbuh kembali harapan, bahwa ada yang istimewa dari kemanusiaan kita yang merupakan bagian dari kesadaran kita sebagai umat Tuhan yang Maha-memaafkan, mengampuni.

Saya merasa lega pada malam pertemuan itu. Karena bertemu sepasang suami-istri yang tabah, kuat, berjiwa besar—walau tetap tak tega melihat adegan pemakaman anaknya dan meneteskan air mata. Lega karena bertemu dengan Irwan Hidayat yang iklaniklan produk jamunya berbicara tentang kemanusiaan, juga ke-Indonesiaan yang kental, juga idenya ketika memberi tumpangan gratis bagi para pemudik. Saya lega bertemu belasan wartawan—sebagian saya kenali, atau mengenali, sejak awal saya juga melakukan profesi jurnalistik. Lega bersapa apa kabar, dan menyadari bahwa waktu yang lama tak kuasa menghapus kenangankenangan lucu. Saya lega ngobrol bersama teman-teman Sara—yang juga teman-teman tersangka pembunuhan, yang usianya sebagian belum 20 tahun, yang bukan hanya berbicara memaafkan, tapi juga menyinggung doa agar “teman yang tersesat” kembali ke jalan yang benar.

Mereka ini sungguh masih belia, masih berada dalam usia yang bisa rawan dalam pergaulan, dan ternyata mampu merumuskan sikap. Termasuk, ingin bisa menggantikan posisi Sara sebagai putri Elizabeth-Suroso. Saya lebih lega karena bertemu banyak – tidak banyak sekali seeeh—penulis yang mengekspresikan dalam blog, dalam media sosial, tentang tema utama ini: memaafkan. Yang intinya menambah semangat, mengubah kecemasan akan sikap remaja menjadi selalu ada harapan. Sampai saat saya menuliskan ini, masih saja ada tulisan-tulisan itu.

Dan ini melegakan. Terima kasih Suroto-Elizabeth yang mengembalikan kuasa memaafkan, terima kasih Irwan Hidayat yang menjadikan peristiwa sebagai dokumen dan kesaksian kehidupan. Terima kasih untuk yang masih mempercayai kekuatan dari memaafkan.

Hafitd-Assyifa? Oh Tidak

Hafitd-Assyifa? Oh Tidak

Arswendo Atmowiloto  ;   Budayawan
KORAN JAKARTA,  15 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Apa jadinya jika hati kita tak tersentuh meletupnya Gunung Kelud? Jika kita tak berbuat sesuatu untuk membantu? Untunglah tidak begitu. Juga bencana longsor, atau korban yang lain, hilangnya pesawat Malaysia, misalnya. Perasaan bela rasa, bisa merasakan penderitaan orang lain, memosisikan pada nasib korban, adalah penggerak nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana jika perasaan kepada sesama tidak ada.

Sakit membayangkan, tapi di dunia ini ada makhluk yang ditandai mempunyai perilaku seperti itu. Adalah remaja bernama Hafitd dan pacarnya, Assyifa, yang diduga keras melakukan pembunuhan sadis pada Ade Sara Angelina Suroto, mantan pacar Hafitd. Sampai di sini semua akal sehat berantakan karena hanya menemukan secuil alasan pembunuhan: bagi Hafitdh, Sara dianggap sombong tak mau berkenalan lagi.

Bagi Assyifa, Sara dianggap ancaman karena kekasihnya bisa balik padanya. Sebuah motivasi yang dianggap aneh, dianggap tak biasa bagi orang-orang biasa. Muncullah anggapan bahwa pasangan yang masih saja tertawa-tawa di tahanan Bekasi ini psikopat, punya pribadi ganda, tak mengenal rasa simpati pada orang lain. Ada yang salah, atau ada yang rusak dari pasangan Hafitd-Assyifa ini.

Teori kejiwaan dengan uji tes psikologis dilakukan. Mungkin akan menerjemahkan adanya kelainan jiwa. Mungkin juga biasabiasa saja—setidaknya bagi mereka berdua ini tak ada yang aneh. Seperti tak terlihat adanya rasa menyesal, seperti ini bukan periksa heboh. Sama tenangnya seperti ketika keduanya membawa–bawa jenazah korban untuk dibuang. Tenang, kalem, meskipun mobilnya mogok, kemudian minta tolong dicarikan aki. Atau juga ketika menjawab pertanyaan bahwa di mobilnya ada mayat. Atau kemudian menjual hape korban.

Atau nge-tweet berbela sungkawa—atau mensyukuri kematian. Atau yang lainnya lagi yang bagi kebanyakan orang, atau bagi orang biasa, sungguh tidak wajar. Maka apa yang terjadi, atau apa yang dilakukan pasangan ini sungguh mengerikan. Mencabuti nilai-nilai kepercayaan kemanusiaan yang selama ini. Yang semua itu dilakukan tanpa merasa ganjil, tanpa merasa sebagai kesalahan— bukan sekadar kelainan. Ini yang bagi saya menakutkan.

Bagi pasangan ini, mungkin membunuh dengan menyiksa bukan sesuatu yang bodoh dan jahat. Mereka merencanakan, dan kemudian melakukan. Dalam ketakutan saya yang tersengat adalah, kalau kejahatan ini lolos, bisa jadi ada korban lain lagi. Tak perlu jelas siapa dan apa kaitannya dengan mereka. Dalam bahasa mereka, itu semua karena “iseng saja”, yang tak perlu diberi penjelasan.

Bagaimana pasangan ini bisa bersikap seperti ini? Akan banyak teori gagalnya pendidikan dari orang tua, atau pengaruh lingkungan. Saya merasa dan meraba-raba bahwa kelakuan “iseng saja” atau “menganggap biasa” ini sebenarnya dilakoni dalam hal-hal lain. Misalnya, saja pasangan ini berpacaran, dan “menganggap biasa” apa saja yang bisa dilakukan berdua—apa saja.

Apakah tidur bersama, atau malah bersama yang lain, atau bahkan kemudian membunuh bersama. Dengan kata lain, ada hal-hal kecil—di luar norma umum yang biasa, —yang selama ini telah dilanggar, dilompati, di-cuekin dengan tenang. Sampai kemudian bahkan peristiwa kriminal yang “menarik perhatian masyarakat”, bagi mereka tetap biasa-biasa. Sungguh sayang, pasangan tidak membuktikan apa-apa, selain kegagalannya menjadi wajar.

Pasangan ini juga tidak membuktikan cinta yang dramatis dalam kebersamaan, karena sebentar lagi pun dalam penjara yang berbeda, mereka hanya menyesali— kalau perasaan itu ada, keterpisahan dan kesiasiaan apa yang dilakukan untuk penderitaan yang akan panjang dan menyiksanya. Yang akan memperparah luka batin atau jiwa.

Karena di dalam penjara, dalam pergaulan pada blok sesama pembunuh, segala sesuatu bisa terjadi. Merinding membayangkan ada remaja seperti itu. Lebih menakutkan lagi jika ternyata kisah nyata nirlogika memunyai pengulangan, persamaan, dalam kisah lainnya yang bisa serupa.

Rabu, 22 Mei 2013

Veven : Generasi Haus Budaya


Veven : Generasi Haus Budaya
Arswendo Atmowiloto ;  Pengamat Budaya Massa
KOMPAS, 19 Mei 2013


Veven Sp Wardhana, 54 tahun, dimakamkan kemarin, termasuk generasi yang tumbuh dalam kehausan budaya. Ia menulis cerita pendek, novel, dan artikel bentuk kesenian seperti film, sinetron, juga menulis skenario. Berbeda dengan teman seangkatan, seperti Butet Kartaredjasa, Veven berpenampilan rapi, juga meja kerjanya, terkesan hati-hati.

Setidaknya dibandingkan teman seusia yang kemudian bergabung dalam tabloid Monitor, yang ketika berkantor di Senayan—sekarang menjadi lapangan parkir—sering lupa menutup kamar mandi dan lupa membawa handuk. Ven—panggilan ini lebih menyenangkan daripada Veven dengan huruf F dari nama aslinya Effendi, bahkan kikuk menuliskan pengalamannya mewawancarai artis. Butuh waktu lama dan sibuk beberapa kali mengganti judul. Tapi, kemudaan usia dan kemampuan menyerap situasi membuatnya cepat menyesuaikan diri. Dan selalu terlihat rapi dengan kemeja dimasukkan, tak sehelai rambut pun jatuh di dahi, dan datang ke pesohor yang menjadi narasumber lebih pagi—untuk mengeringkan keringat karena perjalanan memakai kendaraan umum. Ven ibarat anak manis yang baik-baik saja di tempat kerja dalam bekerja sama, memberi kesan aman dengan tanggung jawab yang diberikan. Nyaris tak menimbulkan persoalan. Kecuali sekali, waktu meminta saya menjadi wali ketika melamar istrinya.

Kritik tak bergetah

Generasi Veven adalah generasi wartawan yang menyenangkan dalam berkarya dan menemukan kepuasannya dalam menuliskan—bukan pada fasilitas atau kemudahan. Mereka menemukan persaingan sehingga memaju untuk banyak membaca buku, berdiskusi, meledek satu sama sama lain. Veven adalah redaktur yang cermat dan bisa berhemat kata, dan tak bisa menerima begitu saja teks ”kerajaan perfilman” atau ”kebudayaan berhenti selama Lebaran”, dan mencoretnya. Baginya, gaya penulisan yang personal tetap harus berada di rel tata bahasa yang baik dan benar. Ini kekuatan, tapi sekaligus juga membatasi untuk liar, dalam menuliskan karya fiksi. Kritiknya tajam, tanpa menimbulkan dendam. Marahnya bisa tetap ramah, dan saya menyebutkan ”tak bergetah”, tidak menempel lama.

Kami masih sering berhubungan meskipun tak lagi berada dalam satu institusi karena hobi yang sama dan wilayah kegiatan tak jauh berbeda. Sama-sama menjadi juri dan kadang menjadi narasumber topik yang sama. Juga dengan teman seangkatan lama. Kadang bercerita nyamannya bekerja dengan apa yang kita sukai, kadang merasa geregetan dengan perkembangan media massa saat ini, kadang bersama-sama merindukan kebersamaan lagi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan.

Sebulan terakhir ini bicara soal sel kanker. Saya punya pengalaman karena adik kandung saya, yang juga sangat dikenalnya karena bekerja di tempat yang sama, menderita penyakit yang sama. Kesimpulan saya mungkin tak menghibur: sel kanker terlalu takabur dan tak takluk oleh doa. Sel kanker mungkin satu-satunya makhluk hidup yang tak mengenal dan memercayai doa. Kami berkomunikasi terpatah-patah dalam kata yang dibatasi melalui SMS, sebelum SMS lain yang mengabarkan kepergiannya.

Kreativitas dan solidaritas

Ketika Butet dan Ignasius Haryanto merencanakan—dan melaksanakan—malam solidaritas pengumpulan dana, Jumat (17/5) malam, almarhum bahkan mengatakan ingin datang. Saya sempat bercanda dan mengatakan saya tak ingin diperlakukan begitu. Menyiksa pembaca karya saya—misal membaca Senopati Pamungkas yang bisa dua malam, atau juga menyiksa pendengarnya. Tapi, sebenarnya yang lebih menyiksa adalah lambatnya mengambil sikap. Apa yang dialami Veven adalah apa yang sudah dialami sastrawan besar Danarto, juga Hamsyad Rangkuti, dan beberapa nama lain.

Para seniman atau pengarang ini sebenarnya cukup kaya—kecuali kalau jatuh sakit. Pembayar pajak yang taat—karena dipotongkan oleh penerbit, ini tak berdaya menghadapi tarif obat atau rumah sakit yang dinamikanya berbeda jauh buah kreativitas. Sehingga rasanya perlu dipikirkan lembaga tetap untuk ini. Semacam ”kartu sehat” yang memihak seniman melarat karena susah dan ogah korupsi. Acara seperti ”hand in hand” adalah baik dan benar, mengembalikan solidaritas dan rasa peduli, tetapi terasa sepotong demi sepotong, dan mengandalkan pendekatan personal. Lebih masuk akal jaminan rasa aman bagi pekerja yang tak mempunyai jaminan pensiun jika saja ada lembaga yang menyantuni. Yang bisa mengambil sebagian modal dari potongan royalti yang masih bisa berkarya. Dan atau pemikiran lain yang lebih pas. Momen sekarang ini bisa menjadi pemantik pendekatan heart in heart, yang lebih berkesinambungan.

Mungkin bisa lebih luas lagi, kebersamaan sebagai pekerja seni dengan beberapa persoalan hidup yang bisa dibagikan. Ada satu hal yang masih mengganjal dalam kaitan dengan Veven, kami belum sampai tuntas mengupas soal keyakinan, soal keluarga—yang melahirkan, yang kita bentuk, atau juga tarif bawah sebagai narasumber misalnya.

Kini, Veven Sp Wardhana telah menyelesaikan lomba kehidupan dengan terhormat. Dan bisa lebih bermanfaat bagi sahabat yang lain, yang bergulat dalam persoalan yang sama. Dalam berkarya, seniman memiliki otoritas kreativitas bagi diri sendiri, tetapi dalam kehidupan mereka memerlukan kerja bersama—bukan sekadar sama-sama bekerja.

Ven, kamu berangkat lebih dulu. Salam, ya….

Sabtu, 11 Mei 2013

Duh, Buruh Nasibmu Kian Menjauh


Duh, Buruh Nasibmu Kian Menjauh
Arwendo Atmowiloto ;  Budayawan
KORAN SINDO, 11 Mei 2013


Buruh dalam pengertian orang yang bekerja pada orang lain untuk mendapatkan upah adalah bahasa resmi, meskipun tidak secara resmi dipergunakan. Kalangan pemerintah lebih menggunakan istilah tenaga kerja, sementara kalangan pengusaha menggunakan istilah karyawan. 

Seakan kata buruh berkonotasi buruk sehingga dihindari, yang sebaliknya justru dipakai penuh dalam menyebut organisasi atau serikat mereka yang menemukan identitasnya. Kata buruh dan tani pernah menjadi idiom kuat sebagai “soko guru revolusi”, tiang utama perubahan di negeri ini. 

Buruh bukan Budak 

Namun, agaknya nasib kaum buruh masih harus melalui jalan yang jauh. Langkah mereka masih akan berpeluh, tanpa didengar bagaimana mengeluh, dalam perjalanan seakan tanpa tempat berteduh. Sungguh aduh. Terutama kabar mengenai belasan buruh yang diperlakukan bukan hanya tidak manusiawi, melainkan melukai nurani. Mereka ini disekap, dipekerjakan sebagai budak—diperhamba semena-mena dan dihilangkan hak-haknya. 

Sehingga, secara bahasa hukum pasal yang bisa menjerat pengusaha kuali bisa berlipat. Sejak perizinan usaha itu sampai pemakaian buruh di bawah umur, penggelapan barang milik buruh, atau juga penipuan saat merekrut. Dan, pasal-pasal atau ayat-ayat untuk itu memang cukup banyak dan dengan kecakapan hukum bisa menjadi pasal yang hidup dan aktual. Apalagi, opini publik yang terbangun secara emosional menyudutkan sang pengusaha. 

Namun, sebenarnya masih ada dua hal yang masih mengganjal. Pertama, secara bahasa, pengertian buruh masih dihindari karena barangkali selalu terkait dengan rusuh. Padahal, sebenarnya banyak istilah buruh yang menempel dalam tubuh keseharian kita. Ada istilah buruh harian, buruh kasar, buruh musiman, buruh tani, buruh pabrik, buruh tambang, buruh gendong, dan atau berbagai sektor industri dan jasa yang ada. 

Dengan posisi awal yang sama: menggantungkan pada upah apa yang dikerjakan. Agak aneh juga pemerintah atau pengusaha mengemohi kata buruh. Yang kedua, yang sebenarnya mulai terungkap ke permukaan, adalah mekanisme yang memungkinkan terjadinya penyekapan dan perbudakan biadab ini. Pengusaha Yuki Irawan– atau siapa pun n a m a - nya– di T a - ngerang bisa melakukan semua ini, karena adanya hubungan dengan pemilik kekuasaan. 

Apakah itu TNI, Polri, atau para preman atau gabungan dari semua itu. Karena, seorang pengusaha rasanya sulit melakukan itu sendirian, tanpa merasa adanya beking, orang, atau orang-orang yang melindungi. Atau untuk aman dan tidak menimbulkan masalah ada oknum yang membekingi. Permasalahannya apakah ini bisa diurai atau cukup berhenti pada Yuki menjadi taruhan utama nasib buruh dan juga bukan buruh yang tak mempunyai akses dan fasilitas dengan pemilik kekuasaan dan kekuatan. 

Buruh bukan Musuh 

Kalau nantinya bisa terjabarkan mekanime hubungan kerja sama saling melindungi— bekingnya pastilah dapat upeti, barangkali proses yang lain bisa dipelajari lebih terbuka. Kasuskasus yang menjadi peristiwa menyedihkan seperti rebutan atau eksekusi lahan, demo buruh, penyerbuan, bisa menjadi terang. Kalau ini dibiarkan m e n g a m b - ang–biasanya begitu, kegamangan nasib buruh di kemudian hari mengalami hal yang kurang lebih sama. 

Karena realitas empiris menunjukkan bahwa buruh bukan hanya berhadapan dengan pengusaha atau pemerintah yang diartikan dalam triparti saja, melainkan ada kekuatan lain yang namanya beking atau pelindung dari mereka. Dalam bahasa sederhana, nasib kaum buruh masih berada dalam suasana gaduh, dalam keadaan mengaduh. Bukan sekadar pengusaha yang dihadapi, melainkan kepentingan lain yang menyertai. Apakah itu sistem yang sudah terbina selama ini, atau bahkan itu sebenarnya yang selama ini terjadi. 

Dan kalau ini tidak ada keterbukaan dan perbudakan pabrik kuali yang mengerikan hanya menjadi kasus lepas, kasus khusus yang tidak terjadi pada buruh lain di tempat yang berbeda. Padahal, bukan tidak mungkin apa yang dilakukan Yuki– atau siapa pun, menunjukkan kasus umum yang ada. Bukan untuk sekadar menyalahkan, melainkan untuk melihat kemungkinan yang lain dari apa yang selama ini berlangsung dan dianggap wajar. 

Misalnya saja, berapa biaya yang harus dikeluarkan pengusaha untuk perlindungan semacam ini? Apakah ini pengeluaran rutin dan ada pos tetap dan wajib? Apakah benar pengusaha memerlukan perlindungan semacam ini. Kalau pengandaian lain, bahwa buruh sebenarnya bukan ancaman bagi pengusaha juga bukan musuh. Atau juga dalam hitung-hitungan bisnis, apakah justru pengeluaran fixed cost kepada beking justru jauh lebih besar dibandingkan upah buruh yang menuntut upah terendah? 

Atau dijabarkan dalam bentuk lain, apakah pengurusan izin dan lain-lain yang menyebabkan pengusaha mencekik pendapatan buruh—karena tak berani menolak gaji beking pemberi izin? Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini pun sebenarnya bisa dibuka oleh pengusaha, untuk dipahami pemerintah, untuk diterjemahkan dalam menentukan upah. 

Selama tidak ada rumusan bersama dalam hal yang sama, selama tidak saling terbuka, rasa-rasanya peristiwa buruh kuali masih akan terus terulang, dalam berbagai variasinya. Dan jalur pendek dengan beking masih akan berlangsung nyaring, meskipun tidak diakui keberadaannya. Dan demikian jalan perbaikan nasib buruh makin terasa jauh, yang harus dilalui dengan kaki dan hati melepuh, karena pengusaha dan pemerintah sendiri masih keruh. Duuuh, kasihan nian. 

Senin, 30 Januari 2012

Blokade Buruh: Ampuh

Blokade Buruh: Ampuh
Arswendo Atmowiloto, BUDAYAWAN
Sumber : SUARA KARYA, 31Januari 2012



Saya termasuk pengguna jalan yang terkena kemacetan panjang saat para buruh berdemonstrasi,27 Januari 2012 lalu. Meskipun hanya imbasnya, karena posisi agak jauh dari tol Jakarta– Cikampek di Km 33, di Cikarang Barat,daerah Bekasi.Beruntung saya belajar dari Bapak Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan, yang selalu menyediakan gelas—dan bukan botol,untuk keadaan darurat saat kebelet pipis. Seharusnya saya mengeluh karena kemacetan yang hampir tujuh jam. Dan saya me-mang mengeluh. Seharusnya saya melenguh, meneriakkan lebih keras kekesalan, dan saya yang berpeluh penuh memang menggerutu dengan kata seru.Tapi saya tiba-tiba merasa sangat egois, hanya mementingkan diri sendiri dengan menyalahkan blokade atau penutupan jalan tol ini.

Apalah artinya keterhambatan saya yang hanya beberapa jam ini dibandingkan nasib para buruh yang memperjuangkan hidupnya untuk mendapatkan upah minimum.Saya toh tak buru-buru amat—bahkan kalau akan pergi ke surga sekalipun. Saya toh merasa bahwa di ujungjalan sana pasti kemacetan akan mencair, sementara nasib para buruh masih tetap getir, masih dipenuhi rasa khawatir. Yang diminta dari saya hanyalah kesabaran sebentar, dibanding nasib kaum buruh yang sudah menunggu perubahan nasib jauh lebih lama. Yang diminta dari dalam diri hanyalah kesadaran, untuk suatu kehidupan yang layak bagi seorang pekerja dan keluarganya. Hidup layak itu adalah upah terendah yang dimungkinkan.

Ampuh

Blokade ini merupakan cara ampuh untuk menarik perhatian, dan berhasil karena relatif bisa membagi penderitaan kaum buruh selama ini.Berhasil karena relatif tanpa anarkisadis, dan membuat jebakan bersama dalam kekesalan yang terakumulasikan. Bahwa yang dijadikan sasaran adalah jalan tol,karena di situlah lokasi para buruh berkarya, bekerja, berada. Kalau saja tempat mereka bekerja di sekitar Istana Negara,mereka akan melakukan hal yang sama. Dan lebih mendasar lagi, karena yang diperjuangkan adalah nasib atas upah mereka yang seolah tapi nyata dipermainkan oleh hukum,ditenggelamkan dalam dunia yang bukan pergulatan mereka sehari-hari.

Seperti juga adanya jalan tol yang bukan diperuntukkan kemudahannya bukan untuk para buruh. Seperti juga iklan-iklan baliho perumahan, dengan fasilitas lapangan golf dan kolam renang. Papan reklame besar, mewah dan menjanjikan itu bukan untuk mereka yang masih harus mengontrak di dekat tempat kerja—semata-mata demi menghemat biaya. Kalaupun ada hubungannya, paling banter ketika papan itu roboh oleh angin puting beliung,yang juga di luar kemampuan mereka, meskipun turut merasakan akibatnya. Kesemuanya ini bisa diterima, bisa dijalani dengan cara tidak memprotes atau melawan.

Namun ketika berurusan dengan periuk nasi, ketika berhadapan dengan upah yang merupakan kekuatan penghasilan satu-satunya, mereka tak bisa menahan diri.Apalagi, menurut perhitungan para ahli, bahkan dengan upah minimum yang kemudian dicabut itu, mereka masih defisit sekitar 11% dari kebutuhan pokok. Dengan kata lain, cara dan pendekatan memblokade jalan tol atau nontol masih akan digunakan untuk menarik perhatian atas perlakuan “kurang adil”,yang berarti juga ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.

Tempuh

Dibandingkan dengan demo lain—demo politis atau sektarian atau bahkan permusuhan— yang juga memacetkan jalanan, para buruh menemukan momentum yang bisa membuat orang lain maklum. Mereka memperjuangkan nasib sendiri,namun sebenarnya juga bagian dari keberadaan kita yang nonburuh selama ini. Bahwa sebenarnya kemudahan yang kita rasakan—apakah namanya jalan bebas hambatan, apakah namanya gedung dan pabrik yang mengagumkan, naiknya posisi sebagai negara layak investasi—tak bisa lepas sama sekali dari kekuatan mereka yang selama ini menyangga.Tak bisa diselesaikan hanya dengan angka rupiah terendah dari balik meja.

Keberadaan kaum buruh harus bisa menjadi faktor yang diperhitungkan, karena pada akhirnya turut menentukan keberhasilan suatu usaha, dan atau sebaliknya. Dalam cakupan yang lebih luas, pendekatan blokade bisa menjadi jalan untuk mempertegas tuntutan apa yang diinginkan. Momentum dan lokasi tidak selalu sestrategis seperti adanya jalan utama seperti terjadi di Jakarta-Banten- Jawa Barat,namun mulai juga terasakan di Bima, NTT, atau Lampung atau Papua. Jalanan menjadi pusat perlawanan, menemukan bentuknya, baik dengan membuntu dan atau menghalangi dengan menumbangkan pohon atau membakar ban,atau bahkan pasang badan.

Masalahnya menjadi kisruh, manakala jalanan menjadi ricuh. Pembebasan jalan menjadi medan “pertempuran”, yang menimbulkan anarki atau bahkan jatuh korban.Kekerasan akan dibalas dengan kejengkelan yang menghadirkan kekerasan atas nama kekuasaan. Kalau sudah demikian halnya,hanya menambah luka dan derita,memperdalam dendam dan permusuhan, dan lebih buruk lagi memperlebar pemisahan, yang sebenarnya bisa terhindarkan. Dalam kasus demo para buruh, untunglah—kalau kata itu masih bisa digunakan,tidak meliar dan dengan bakar membakar, meskipun ada motor yang tersambar api.

Titik api yang sebenarnya bukanlah di jalanan itu sendiri, melainkan pada akar permasalahan yang tidak segera tegas diselesaikan dengan tuntas.Sehingga kemenangan sementara menenangkan lokasi jalanan hanya bersifat sementara. Para buruh menempuh jalan yang masih panjang, dan tetap perlu kearifan untuk melaluinya.

Demikian juga aparat yang menanganinya. Setidaknya kalau tidak bisa saling menjaga, akan terjadi ledakan demi ledakan yang lebih merugikan semuanya, bahkan juga identitas sebagai sesama warga negara, sebagai bangsa. Inilah yang sedang kita tempuh bersama, dengan keluh dan lenguh,juga dengan keinginan untuk tumbuh saling memahami apa yang kita perjuangkan.

Jumat, 13 Januari 2012

Paku Kasih

Paku Kasih
Arswendo Atmowiloto,  BUDAYAWAN
Sumber : SINDO, 14 Januari 2012



Paku, pasak atau penyemat dari logam yang ujungnya runcing dikenali dalam kehidupan kita. Di Keraton Surakarta Hadiningrat, rajanya masih bergelar Paku Buwono, dan di Yogyakarta ada Paku Alam.

Pakuningratan bisa berarti nama kampung yang didiami bangsawan atau keturunannya,tapi juga diartikan sebagai “paku yang bertebaran di jalanan”. Yang terakhir ini agaknya tindak kesengajaan, yang membuat ban kendaraan yang melaluinya kempes dan memerlukan perbaikan. Tindak kejahatan yang bisa membahayakan orang lain,termasuk nyawa. Untunglah dalam masyarakat kita ada dinamika yang mulia.Ada komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku,Saber.Komunitas ini secara suka rela,tanpa dibayar tanpa ada yang menyuruh, memunguti jebakan maut itu.Dinamika yang menarik dan baik serta benar adanya: ketika ada kejahatan,muncul kebaikan dan ini berasal dari masyarakat biasa,bukan aparat.

Paku Jahat

Kadang saya berpikir apakah kita ini harus jahat supaya bisa makan? Apakah para penyebar ranjau paku yang dikaitkan dengan usaha tambal ban—kelompok yang paling memiliki motivasi dan mendapat keuntungan dari kasus ini––benar-benar tak mendapat nafkah kalau tidak jahat? Kalau memang usaha tambal ban di jalan tertentu tak memberi penghasilan, kan bisa pindah ke tempat lain dan atau menutup usahanya beralih ke usaha lain yang tak membahayakan masyarakat. Karena akibat dari peranjauan yang ditimbulkan bukan sekadar ban pecah, tapi bisa berarti pengendara terguling yang dapat menyebabkan kehilangan nyawa.

Pertanyaan yang sama bisa diberikan kepada mereka yang memoles makanannya dengan zat pewarna, mencampur dengan zat pengawet, menggunakan bumbu masak yang bertentangan dengan nilai-nilai kesehatan. Atau pertanyaan lebih besar lagi,haruskah menciptakan jenis flu burung untuk menandai kekuasaan atas kuasa yang lain? Dalam makna yang sama pertanyaannya adalah : kenapalah harus menjadi jahat hanya karena bisa melakukan dan punya kuasa untuk itu? Bukankah usaha yang biasa,yang wajar, yang tidak kemaruk serta serakah tidak membuat mereka mati kelaparan?

Bukankah dengan menjadi wakil rakyat—atau polisi, jaksa, hakim,pegawai negeri sipil,pejabat atau petinggi,atau apa saja sebenarnya—cukup terhormat dan tak akan membuat mati kelaparan? Apakah harus melakukan korupsi dan penyalahgunaan kuasa untuk memuaskan nafsu dan napas kebinatangannya hanya karena memiliki akses untuk itu dan dilakukan bersama yang lain? Seorang penyebar ranjau paku berharap dapat rezeki kalau ban kendaraan kempes dan pergi kepadanya untuk ditambal.

Yang tak diketahui, pengendara yang bannya kempes mendadak bisa terjungkal dan meninggal.Atau kalaupun tahu, tidak peduli. Atau kalau tahu dan peduli, tetap dilakukan. Hal yang sama dalam skala lebih besar, durjana korupsi bukan hanya berarti memperkaya diri sendiri dan koleganya, melainkan juga membuahkan kesengsaraan dan derita, bahkan merenggut nyawa orang lain. Kadang saya berpikir, kenapalah menyebar ranjau paku menjadi arah, walau sadar itu tindakan yang salah? Benarkah moralitas kita sudah demikian bubrah?

Salam Saber

Dalam situasi “menjadi jahat karena bisa jahat”,saya masih memiliki semangat melihat komunitas Saber. Mereka ini orang-orang biasa, pekerjaannya biasa juga, sehari-hari hidup sebagai sopir, tukang parkir, satpam,pengusaha bangunan, atau bahkan belum punya pekerjaan.

Dengan keterbatasan dan atau kekurangannya, mereka mampu memberikan kelebihan. Atas usaha sendiri membersihkan paku jalanan. Setiap hari, pagi dan sore— sesudah penyebar paku beraksi–– dengan peralatan seadanya. Mereka bukan komunitas parpol,bukan komunitas ormas, yang tak memperoleh keuntungan materi dari apa yang dikerjakan. Bahkan, mudah diduga, mereka mendapatkan perlawanan keras dari penjahat paku.Mereka ini telah bekerja jauh hari tanpa didahului proposal. Tanpa baliho atau spanduk.

Mereka menebarkan kasih dalam arti yang sebenarnya tanpa sekat agama, etnik, juga prasangka. Komunitas Saber adalah pahlawan––tanpa tanda jasa, tanpa devisa––dalam arti memperhatikan orang lain dan melakukannya. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, bekerja keras tanpa berharap imbalan. Komunitas Saber bukan hanya membersihkan paku berbahaya dan membersihkan jalanan agar memperoleh keselamatan bagi orang lain, melainkan juga membersihkan pikiran kita semua untuk menjadi sehat.Bahwa sesungguhnya naluri membantu sesama, naluri persaudaraan, masih ada dan bermakna dalam komunitas yang lebih luas.

Yang tetap bisa dilakukan dan ditekuni dalam keterbatasan. Tingkat sosial mereka barang kali tak jauh-jauh amat dengan kehidupan para penambal ban itu sendiri. Tapi mereka menjadikan indah kehidupan, juga bagi orang lain yang secara pribadi tak dikenalnya. Dan inilah contoh nyata, karena bisa dilihat di jalanan, bahwa pada masyarakat yang tak banyak punya akses, tak dimudahkan oleh kuasa, ternyata tetap ada kebaikan dan membuka nurani. Salam paku, eh salam Saber.

Jumat, 06 Januari 2012

Seni Tradisi: Tangisan Pocong


Seni Tradisi: Tangisan Pocong
Arswendo Atmowiloto, BUDAYAWAN
Sumber : SINDO, 7 Januari 2012



Pemeran hantu pocong dari Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, dalam lakon klasik Hantu Pocong Waru Doyong, mengeluhkan nasibnya: selama 30 tahun berperan sebagai hantu pocong, nasibnya tetap “gini-gini saja.”

Lalu setengah bertanya: saya harus berperan sebagai apa lagi? Pertanyaan yang menakutkan— lebih menakutkan dibandingkan keberadaan hantu itu sendiri— bagi berbagai bentuk seni tradisi. Di negeri yang mempunyai ratusan,atau ribuan bentuk seni tradisi yang bukan hanya seni panggung, ternyata mengidap gizi buruk, dan tak teperhatikan. Pemain ketoprak yang biasa memainkan peran raja di Balekambang Solo, siang hari bekerja sebagai penarik becak, dan kini kediaman di bawah panggung harus pindah.

Dalang kandha—dalang yang merangkap ilustrasi gamelan dengan suara mulut di daerah Banyumas, Jawa Tengah, yang biasa ngamen di pasar, kini menjadi penjual burung merpati yang dipasarkan melalui sepeda tua. Perkumpulan pencak silat di Madiun yang pernah tenar, kini berlatih diam-diam, tanpa promosi,karena dituduh melatih remaja yang nantinya akan tawuran.

Seorang penggiat seni di daerah Borobudur Magelang sudah lama berganti profesi menyewakan kain bagi pengunjung yang masuk candi kesohor.Wayang orang RRI Solo, setiap kali pentas, menyediakan kotak sumbangan suka rela yang pastilah tidak mencukupi untuk 80 pemain dan musisi— penabuh gamelan.

Grup lenong di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta memilih kerja lain yang sama sulitnya: mencari rumput untuk makanan kuda delman. Semua daerah budaya mempunyai kisah sedih,walau tak membuat senimannya patah hati. Diperlukan pendekatan strategis agar kekayaan budaya— yang di dalamnya ada tata nilai dan tata krama,ajaran, dan petuah—tidak makin tersingkir dan hilang.

Dua Kreativitas

Keterpinggiran seni tradisi menurut saya karena gagap dan gugup menerima perubahan media yang dihadapi. Baik dari unsur tokoh, pemahaman lokasi—baik lokasi tempat maupun lokasi waktu, serta konflik yang disajikan.Terutama sekali jika dikaitkan dengan generasi muda yang mempunyai pilihan lain begitu banyak, begitu mudah, dan begitu instan. Persoalan ini adalah wilayah seniman tradisi untuk menga k - tualkan kembali. Pergulatan kreativitas adalah bagiannya yang mutlak untuk tetap hadir.

Dalang wayang kulit Ki Nartosabdho yang kampiun itu membawa drum—dan bukan hanya satu,di antara alat musik kendang.Almarhum menciptakan gending atau partitur baru yang lagunya sampai sekarang masih dinyanyikan seperti Prau Layar, misalnya.Atau para dalang yang memainkan wayang kulit dengan pakeliran padhet, pertunjukan padat, hanya selama empat jam dan bukan semalam suntuk.

Atau jenis banjaran,penuturan secara biografis tokoh wayang,yang tak dijumpai sebelumnya. Atau beberapa sanggit—nama lain dari kreativitas unggul, yang membuat masyarakat tetap mengikuti dan terpesona. Dan sesungguhnya para empu, bahkan yang masih muda usia, mempunyai kemampuan untuk ini, karena bergelut setiap harinya. Kreativitas kedua adalah bagaimana proses kreativitas pertama bisa dipersembahkan ke masyarakat.

Apakah tempat pertunjukkan yang tetap, apakah kemudahan mendapatkan informasi kegiatan dan kontinuitasnya, dan atau sarana lain yang mendukung. Peran ini bisa diambil pemerintah yang mengetahui proses kreatif yang ada—dan bukan mengemas untuk kepentingan pariwisata semata,atau juga yang dikenal sebagai Maecenas, atau pelindung dan sekaligus penyandang dana. Peran ini yang dulu dimainkan oleh raja dan para bangsawan dan atau j u g a k e l a s m e n e - ngah.Tak akan lahir balet, orkes simfoni, pertunjukan teater, di negeri mana pun tanpa adanya pem e r a n kedua setelah proses kreatif berlangsung.

Duet Sanggar

Dalam bahasa kerja, perwujudannya bisa dimulai dengan adanya sanggar seni— bisa sanggar tari, sanggar keroncong, sanggar sastra, sanggar pencak silat, sanggar ukir, sanggar kriya—pada komunitas tertentu. Menghidupkan sanggar-sanggar sebagai pusat kegiatan kesenian menjadi tak terhindarkan. Karena di sinilah lokasi kegiatan, juga informasi, yang memetakan kegiatan yang ada.

Sekaligus mengundang dan menawarkan alternatif pilihan bagi para pemula.Dari sini diandaikan akan muncul seniman-seniman tradisi. Kalaupun tidak menjadi pemain aktif, paling tidak apresiasi budaya tradisi terkomunikasikan. Dan kalau saja sanggarsanggar ini bisa hidup dan saling duet atau kerja sama,yang terhimpun di dalamnya bukan hanya mereka yang tertarik dengan seni tradisi belaka, melainkan suatu komunitas budaya yang bisa berinteraksi dengan sendirinya.

Bukan tidak mungkin, atau ini sasaran lain, komunitas budaya ini juga mampu mencegah terjadinya konflik-konflik yang bisa mengganas. Rasa-rasanya komunitas budaya ini mampu mencegah terjadi salah paham, salah pengertian, salah perbedaan, dan jalan budaya adalah jalan pencegahan dini akan bentuk-bentuk anarki. Karena jalan budaya selalu mengedepankan dialog dibandingkan kekerasan, mendahulukan berkarya dan bukan hanya berwacana, serta tidak menganggap seninya yang paling benar dengan meniadakan yang lain.

Dengan bahasa yang lebih besar, kita bukan prihatin dan menangisi nasib pemeran pocong, juga bukan sekadar iba dan ingin menolong bentuk seni tradisi semata, melainkan dan yang terutama adalah bagaimana mengembangkan proses budaya yang sesungguhnya. Bagaimana kebersamaan itu menemukan bentuknya yang dinamis. Bagaimana menanamkan karakter, menanamkan pemahaman berkeluarga, bertetangga, bernegara, berbangsa, bahkan beriman.

Bagaimana mengembangkan sikap moral, bagaimana membedakan perbuatan jahat dengan baik.Kesenian, terlebih seni tradisi, bukan tidak mungkin justru lahir dari keinginan luhur ini. Saya bahkan kadang terpikir kegagalan berbangsa dan bernegara dengan maraknya tawuran antarkampung, antarmahasiswa,karena kita mengabaikan pendekatan budaya. Juga terjadinya kekerasan di Mesuji, Bima, Papua— untuk menyebut beberapa nama panas, karena budaya kekerasan dinomorsatukan, karena kuasa dan pendekatan materi menjadi tolok ukur keberhasilan.

Jalan budaya tidak meniadakan kuasa atau harta, tetapi memberi makna lebih manusiawi atas kekuasaan dan materi. Dengan cara kreatif, bukan pemaksaan dan peniadaan. Jalan budaya adalah jalan atau pendekatan manusia,dan barang kali itu yang membedakan dengan binatang yang hanya mengenal memangsa makhluk lain.