Tampilkan postingan dengan label Sidharta Susila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidharta Susila. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

“Devide et Impera” dalam Pendidikan

“Devide et Impera” dalam Pendidikan

Sidharta Susila  ;   Pendidik, Tinggal di Muntilan, Magelang
KOMPAS, 01 April 2014
                                      
                                                                                         
                                                             
PASTILAH tak tebersit niat, apalagi upaya, negara menciptakan pertengkaran dan bahkan perpecahan dalam pengelolaan pendidikan kita. Namun, kalau ternyata itu terjadi di antara pelaku pendidikan karena kebijakan penguasa, negara tak bisa tinggal diam. Kuasa uang kian memobilisasi pendidikan kita. Sejenak guru mencecap manisnya ragam tunjangan. Namun, berubah-ubahnya aturan penerimaan serta keterlambatan/tidak lancarnya penerimaan tunjangan-sertifikasi memantik kesadaran dan daya kritis kita. Benarkah negara tulus memperjuangkan nasib guru? Sungguhkah negara ini telah punya cukup dana untuk terus menggelontorkan uang bagi pengelolaan pendidikan?

Ada yang pilu pada janji sertifikasi guru. Kurikulum baru yang akan segera diberlakukan berdampak terhadap jumlah minimal jam mengajar yang dituntut untuk memperoleh tunjangan sertifikasi. Ada banyak guru pada tahun ajaran baru nanti tak lagi memperoleh jumlah minimal jam mengajar tersebut. Mereka harus menyudahi manisnya tunjangan sertifikasi. Ketegangan pun terjadi.

Banyak sekolah, khususnya sekolah swasta miskin, berusaha mengelola ketegangan di antara para guru yang berpotensi tidak bisa lagi menerima tunjangan sertifikasi. Mereka meminta guru mengalah dengan memberikan jam mengajarnya kepada guru lain. Itu tak mudah.

Bukankah manisnya pendapatan sertifikasi telah mengubah pola konsumsi? Pasti tak mudah juga bagi anak-suami-istri para guru menerima kenyataan akibat tak lagi bisa menerima tunjangan sertifikasi.

Bagi sekolah negeri yang ditopang uang negara (baca: uang rakyat lewat pajak), juga sekolah swasta kaya, agaknya tak masalah. Dana investasi mereka berlimpah, nyaris tak berbatas.

Mereka bisa menyikapi dengan menambah rombongan belajar dengan konsekuensi memperkecil jumlah murid setiap kelas. Juga dengan membuat kelas baru untuk menerima murid sebanyak mungkin.

Jejak ”devide et impera”

Tidakkah cara ini sebuah pemborosan berbiaya mahal? Tidakkah ini ketidakadilan yang ironis, mengingat banyak sekolah yang sekarat? Bukan hanya pemborosan berbiaya mahal, benih ketegangan dan perpecahan antarsekolah pun mulai tercium aromanya. Demi menyelamatkan peluang memperoleh tunjangan sertifikasi, pengelolaan sekolah- sekolah ”kuat” kian egois. Tak peduli dengan nasib sekolah-sekolah sekitar. Itu artinya juga sekolah ”kuat” tak lagi peduli dengan nasib guru di sekolah lain yang ”ringkih-miskin”.

Dinamika devide et impera segera terjadi dalam dinamika pendidikan kita. Hari-hari ini ketegangan dan perpecahan antarguru sudah mulai menyeruak di sekolah-sekolah kita. Para guru tak selalu mudah lagi untuk berbagi. Uang telah demikian merasuki kehidupan guru kita.

Dengan masif, uang telah melemahkan militansi dan karakter guru sebagai pendidik, seorang abdi yang murah hati berbagi hidup. Tuah devide et impera juga terjadi antarsekolah. Pengelolaan sekolah kian egois. Sekolah-sekolah ”ringkih-miskin” yang acap kali dikelola pendidik militan pun kian sekarat.

Para gurulah yang akan segera menjadi korban. Akan tetapi, sesungguhnya kita juga sedang mengorbankan dan mempertaruhkan nasib bangsa ini. Tidakkah menambah rombongan belajar dan lokal untuk meraup sebanyak mungkin murid tak diintensikan demi kualitas pembelajaran? Tidakkah semua itu demi menyelamatkan tunjangan sertifikasi? Tidakkah itu berarti murid hanyalah obyek penyelamat nasib guru? Tidakkah ini merupakan tragedi pendidikan?

Dulu kita suka mencaci nasib guru yang sedikit lebih baik daripada melarat. Namun kini, di akhir pemerintahan ini, alih-alih memperbaiki nasib dan martabat guru, kita sedang membentuk guru egois dan materialistis. Dua sifat itu ampuh melibas karakter abdi para guru, sosok pendidik-peziarah yang memuja martabat kehidupan. Mungkinkah kita sedang merobohkan militansi pendidikan dan melahirkan guru yang membudak uang?

Rabu, 25 Januari 2012

Bertemu Wajah Lain Polisi


Bertemu Wajah Lain Polisi
Sidharta Susila, PENDIDIK DI YAYASAN PANGUDI LUHUR MUNTILAN, KABUPATEN  MAGELANG
Sumber : SUARA MERDEKA, 26Januari 2012



"KESAN banyak orang tentang polisi di negeri ini buram. Kesan ini sesungguhnya tidaklah menggambarkan seluruh jajaran korps itu. Agaknya kesan itu tak terhindarkan ketika sejumlah oknum polisi tak mau belajar dari ungkapan bijak ”Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Pengalaman penulis surat pembaca berjudul ”Pengalaman Kena Razia dan Perpanjangan SIM” dari Salatiga (SM, 18/01/12) adalah contoh polisi yang lain.

Terus terang ketika membaca judul tulisan itu, saya spontan berprasangka bahwa tulisan itu berisi tingkah akal-akalan polisi. Stigma adalah spontanitas yang yang meloncat tiap kali saya mendengar kata atau berjumpa polisi. Setelah membaca tulisan itu, saya sungguh merasa bersalah.

Jajaran polisi yang diceritakan pada surat pembaca itu adalah polisi yang mampu menjalani hidup dan tugasnya dengan cara berbeda. Barangkali mereka ini termasuk polisi yang mengarungi kariernya dengan melawan arus. Jujur saja, sikap dan tindakan polisi yang berani melawan arus itu menyejukkan kehidupan.

Melawan arus itu sebentuk keluar dari tempurung pengkerdil diri. Rasanya jajaran polisi memiliki potensi hidup dalam tempurung. Senjata, seragam, kesatuan, pola relasi, dan kebiasaan bisa membuat polisi hidup dalam tempurung. Seolah-olah polisi itu harus garang. Setidaknya berwajah sangar. Senyum sepertinya tabu.

Meski baik, memilih melawan arus itu tidak mudah. Pepatah mengatakan di kandang kambing mengembik, di kandang anjing menggonggong. Lingkungan dengan segala aturan dan pernik-perniknya mengarahkan cara merasa hingga ekspresi hidup seseorang. Karenanya melawan arus itu tidak mudah karena itu berarti menjadi yang aneh dalam kelompok/ korps.

Arus yang dilawan polisi dalam korps bukan hanya dalam perilaku dan penampilan. Yang paling berat adalah melawan habitus, yaitu ekspresi spontan praktis yang dipelajari dan terbangun tanpa sadar lewat relasi antaranggota dalam korps. Habitus itu seringkali membuat orang tak lagi sadar bahwa ada yang salah, atau setidaknya kurang tepat pada ekspresi hidupnya bila merujuk pada visi dan misi korps. Karenanya habitus yang tak disadari tak pernah memberi ruang untuk melakukan koreksi dan perbaikan korps. Habitus inilah yang juga membuat polisi hidup dalam tempurung pengkerdilnya.

Menggunakan Hati


Salah satu habitus yang seringkali dikeluhkan adalah tingkah sejumlah oknum polisi yang main kuasa dan akal-akalan. Kesannya polisi demikian justru mengharap masyarakat melanggar. Ketika pelanggaran terjadi, dengan girang dan garang dikejarnya pelanggar itu. Mengapa polisi tidak mengingatkan saja pengguna jalan sebelum tikungan sial itu. Bukankah ini bentuk peran polisi yang mendidik?

Rasa gemas kian menjadi dan berubah menjadi geram ketika oknum polisi memainkan acting akal-akalannya. Di pos jaga, pelanggar marka harus berurusan hingga membayar sejumlah denda. Tapi syukurlah, yang namanya oknum itu jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang seluruh anggota jajaran itu.

Di antara jajaran polisi itu, saya mulai banyak berjumpa dengan polisi yang lain. Di Klaten saya berjumpa seorang kapolsek yang mengaku bahwa sejak bertugas belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadap masyarakat. Ia juga mengaku belum pernah menilang sembarangan, apalagi ditambah membuat tindakan akal-akalan terhadap pelanggar.

Yang disyukuri kapolsek berwajah ramah ini adalah di mana pun ia bertugas, angka kejahatan selalu turun, pelanggaran masyarakat sirna, dan situasi wilayah tanggung jawabnya kondusif.

Meski ia sendiri mengakui bahwa ia belum berbuat banyak untuk wilayah itu.

Barangkali pada kapolsek di Klaten itu kita menjumpai polisi yang bekerja dengan hati. Atau, ia bekerja dengan mengedepankan inner beauty-nya. Yang menarik, misteri yang indah menyertai perjalanan tugasnya.  Hidup dan tugasnya pun menjadi peziarahan yang memesona. Nah, mengapa polisi tak mau menjadi polisi yang lain?

Selasa, 24 Januari 2012

Mengukuhkan Pluralisme


Mengukuhkan Pluralisme
Sidharta Susila, PENDIDIK DI YAYASAN PANGUDI LUHUR DI MUNTILAN, MAGELANG
Sumber : KOMPAS, 25 Januari 2012


Pendidikan adalah ruang menumbuhkembangkan pribadi beradab. Ketika pendidikan ada dalam kepungan pengerdilan peradaban, kelas mesti menjadi ruang perjuangan untuk melahirkan pribadi beradab. Kelas menjadi arena perjuangan melahirkan anak bangsa yang pluralis dan nasionalis, pencinta sejati negeri ini.

Tulisan Hasibullah Satrawi berjudul ”Radikalisasi Tunas Muda” (Kompas, 31/12/2011) terus meneguhkan penulis untuk menjadikan kelas arena perjuangan. Anak-anak yang hadir di kelas tak boleh terus dibiarkan hidup sebagai gerombolan dengan sejumlah paham radikal dan eksklusif dengan segala luka dan curiga yang meringkihkan bangunan negeri ini. Mereka harus dipisahkan dari gerombolan hingga menjadi pribadi pluralis.

Pluralisme adalah takdir tak terbantahkan dalam kehidupan ini. Keberlangsungan hidup segala ciptaan meniscayakan relasi dengan ciptaan lain (”Mengubah Paradigma Pendidikan Agama”, Kompas, 13/1). Keniscayaan ini bukan hanya dalam konteks agama dan lingkup Indonesia, melainkan juga dalam konteks dan lingkup lebih luas. Keterbukaan untuk berelasi dan membangun jejaring hidup dengan liyan adalah keterampilan hidup yang sangat diperlukan dalam kehidupan yang bertakdir plural ini.

Radikalisme, meski dibangun bersama massa sebesar apa pun, sejatinya membatasi, bahkan menyempitkan ruang kehidupan. Segala paham dan aksi radikalisme adalah tempurung kehidupan. Tragisnya, radikalisme dan eksklusivisme adalah tempurung kehidupan yang kian menyempit. Penghayatnya pun akhirnya menjadi pribadi kerdil karena menihilkan adab.

Membongkar Tempurung

Radikalisme sebagai tempurung pengerdil kehidupan sering terbangun dalam paham eksklusif. Membongkar tempurung radikalisme artinya melumerkan eksklusivisme.

Pengalaman penulis, pemahaman yang eksklusif dan radikal pada sejumlah siswa terbangun karena informasi yang tunggal, sepihak, lagi sempit. Ini sebuah kebodohan. Gerakan radikalisme dan eksklusivisme kebodohan ini sengaja diciptakan dan dipermanenkan. Sesungguhnya ini bentuk kejahatan.

Demi melumerkan kebekuan pemahaman eksklusif dan radikal, guru mesti menjadi teman dialog. Guru dan murid belajar bersama. Pembelajaran dalam dialog mengandaikan pencarian bersama. Hubungan guru dan murid setara. Langkah pertama dan utama adalah saling mengenal bangunan pemahaman dan persepsi. Pengenalan diupayakan dengan menyeluruh dan komprehensif dalam tinjauan beragam disiplin ilmu.

Pengenalan bersama tentang pemahaman dan persepsi guru-murid itu seperti menegaskan peta hidup masing-masing. Pada tahap ini, dalam tinjauan sosial-budaya, sering kali penulis bersama para murid menemukan ruang ringkih dari konsep dan keyakinan (agama) kami masing-masing. Ruang ringkih ini menyadarkan bahwa radikalisme dan eksklusivisme ternyata hanya parsial kehidupan.

Karena itu, radikalisme dan eksklusivisme sesungguhnya meringkihkan kehidupan yang sudah penuh keringkihan. Penemuan ruang ringkih ini membantu mencipta kesadaran perlunya liyan untuk membangun hidup lebih baik. Pada kesadaran ini, penulis memotivasi peserta didik untuk membangun jejaring hidup. Jejaring hidup akan membuat realitas hidup yang parsial menuju ke kesempurnaan.

Ringkih itu Mengokohkan

Agaknya kita perlu mempertimbangkan metode pembelajaran dengan penyadaran ruang 
ringkih ini. Dalam kehidupan yang tertakdir plural, juga dalam tinjauan kehidupan sebagai produk sosial budaya di era globalisasi, kesadaran bersama akan keringkihan adalah titian niscaya membangun kehidupan kokoh.

Keringkihan menyadarkan betapa pentingnya liyan. Liyan bukan musuh. Liyan justru anugerah cuma-cuma kehidupan dari Sang Pencipta. Keringkihan memang menyadarkan akan kehidupan yang merongga, kehidupan yang tak sempurna. Kesadaran hidup yang merongga sesungguhnya tahap mencipta undangan kehadiran liyan. Liyan adalah wahyu Ilahi yang membadan. Pada liyan manusia menjumpai Yang Ilahi dalam bahasa yang terjangkau. Karena itu, keringkihan adalah kemurahan hati sekaligus jalan kasih dari Sang Pencipta agar manusia mampu menggapai kesempurnaan.

Jangan takut menyadarkan anak didik tentang ketidaksempurnaan hidup dengan segala keyakinannya selama ini. Kesadaran akan ketidaksempurnaan adalah keniscayaan untuk menggapai kesempurnaan. Kesadaran akan ketidaksempurnaan sejatinya adalah tanda kecerdasan manusia yang hidup di dunia yang plural dan mengglobal ini. Beranikah kita melakukannya?