Tampilkan postingan dengan label Billy Boen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Billy Boen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

Fenomena Langkah Pertama

Fenomena Langkah Pertama
Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management; Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 24 Mei 2013



Semua orang ingin sukses. Tapi tidak semua orang akan sukses. Ada yang bilang bahwa sukses adalah hak setiap orang. Tapi, kalau memang benar demikian, lantas kenapa tidak semua orang lantas mengklaim hak untuk suksesnya? Aneh kan? 

Jadi, apakah benar sukses itu adalah hak setiap orang? Kenapa banyak orang yang ingin sukses, tetapi tidak berhasil? Ada banyak alasannya, di antaranya faktor keberuntungan yang belum menghampirinya, kurang gigih alias mudah menyerah, berusaha berkali-kali dengan cara yang sama padahal sudah tahu bahwa cara itu kurang tepat, dan masih ada “jutaan” alasan lainnya. 

Namun, yang paling banyak kita jumpai adalah ketidakberanian seseorang untuk mengambil langkah pertama. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa semua berawal dari langkah pertama. Inilah kenapa saya menuliskan judul “Fenomena Langkah Pertama” untuk tulisan kali ini. Kalau dipikir-pikir, aneh kan, mau sukses tapi nggak berani mengambil langkah pertama? Secara psikologis, merupakan hal yang wajar dan manusiawi apabila kita memiliki rasa takut. 

Ada orang yang takut apabila berada di ketinggian, ada yang takut apabila berada di ruang tertutup atau di ruang gelap, ada yang takut ketika harus berbicara di depan publik, dan seterusnya. Bagaimana mengalahkan rasa takut yang kita miliki? Yang pertama harus dijawab adalah apakah kita benar-benar mau mengalahkan rasa takut tersebut dan kenapa? 

Apa alasannya? Kalau Anda hanya ingin mengalahkan rasa takut tersebut tanpa memiliki alasan (reason) yang jelas, saya rasa kemungkinan Anda akan menyerah di dalam prosesnya lebih besar dibandingkan apabila Anda memiliki alasan yang jelas kenapa Anda ingin sekali mengalahkan rasa takut tersebut. Nah, balik ke fenomena langkah pertama di dalam pencapaian sebuah kesuksesan. 

Pertama, sadarilah bahwa kalau Anda tidak mengambil langkah pertama ini, ya jelas Anda tidak akan mencapai tujuan yang ingin Anda capai, yaitu kesuksesan (apa pun itu). Kalau Anda sekarang berada di rumah dan ingin pergi ke kantor, tapi nggak berani keluar rumah, ya gimana Anda bisa sampai di kantor? Nggak mungkin kan? Kenapa sih banyak orang yang nggak berani mengambil langkah pertama? Pada umumnya sih karena mereka takut gagal di tengah jalan. 

Benar? Mereka takut kalau di tengah jalan, apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Mereka takut menghadapi rintangan yang tahu-tahu muncul di depan mereka tanpa mereka prediksi sebelumnya. Mereka takut tidak siap menghadapi rintangan yang ada di depan. Memang, sehebat apa pun kita merencanakan suatu perjalanan, kita tidak akan mampu memprediksi 100% apa yang akan terjadi di perjalanan yang akan kita tempuh. 

Ketika ini yang Anda hadapi, ya Anda nggak boleh give up. Di detik Anda menyerah, ya tujuan yang ingin Anda capai tidak akan pernah tercapai. Balik ke ketakutan di awal, coba pikir deh, kalau Anda tidak berani mengambil langkah pertama, ya Anda sudah pasti gagal alias tidak akan berhasil mencapai tempat yang ingin Anda tuju. Menurut saya, masih lebih baik mencoba dan di tengah jalan gagal daripada sama sekali tidak mencoba. 

Kenapa? Kalau sudah dicoba, tetapi misalnya kapasitas diri kita ternyata tidak mampu untuk menghadapi rintangan yang ada, setidaknya ada yang bisa kita pelajari. Kita akan bisa menganalisis rintangan tersebut dan setidaknya kita sudah tahu bahwa kalau kita akan mencobanya di lain kesempatan, kita harus mempersiapkan diri andai rintangan tersebut kembali muncul di hadapan kita. 

Nah, kalau kita tidak mencoba sama sekali, ya kita masih tetap tidak akan tahu bahwa akan ada kemungkinan rintangan tersebut muncul ketika suatu hari kita mencoba melakukannya. Sekarang ini, teman-teman saya masih sering bingung dengan kegiatan saya sehari-hari memimpin beberapa perusahaan milik saya dan mitra bisnis saya. 

Jangankan teman-teman saya, personal assistant dan beberapa orang di tim saya aja bingung, “Banyak banget yang Mas Billy jalanin!” Terkadang, saya sendiri juga bingung, kok bisa ya? Di bawah PT Jakarta International Management (JIM), ada beberapa lini bisnis yang beberapa di antaranya modeling agency(JIM Models), artist management (JIM Artists), fashion event organizer(JIM Events), modeling school (JIM-f Modeling Academy), dan professional speaker management (JIM Executive). 

Ini adalah lini bisnis yang masih jalan dan berkembang. Tapi bukan berarti sejak JIM berdiri pada akhir 2006, semua lini bisnis yang dimulai berkembang. Ada beberapa yang saat ini sedang “mati sementara”, di antaranya bidang fotografi (JIM Photography), kids talent management (JIM Kids), talent management (JIM Talent), dan creative digital agency (JIM Digital). 

Kenapa saya bilang keempat lini bisnis ini mati sementara? Karena meskipun pernah dicoba dan gagal, saya tidak menganggap bahwa keempat bisnis ini lantas tidak akan pernah bisa dimulai kembali dan berhasil. Dengan kata lain, suatu saat, ketika saya mampu mendapatkan mitra bisnis yang sesuai, saya akan kembali membuka keempat lini bisnis ini lagi. Saat ini, saya masih sebagai salah satu pemegang saham Rolling Stone CafeJakarta yang ada di Ampera Raya, Jakarta Selatan. 

Yang banyak orang tidak tahu adalah bahwa saya juga sempat bermitra dengan teman SMP saya membuka sebuah warung nasi goreng di Kelapa Gading pada akhir 2009 lalu. Warung ini hanya bertahan sekitar lima bulan dan akhirnya kami berdua memutuskan untuk menutupnya. Saya juga pernah menginvestasikan uang saya puluhan juta ketika seorang teman SD mengajak saya untuk membuka sebuah perusahaan digital printing. 

Perusahaan ini sempat bertahan selama 2 tahun, tetapi kemudian bangkrut. Masih ada beberapa pelajaran lain yang telah saya dapatkan. Saya tidak menganggap kegagalan yang saya ceritakan tadi adalah sebuah kegagalan, tapi lebih sebagai sebuah pembelajaran. Kenapa? Karena saya yakin, ketika suatu hari saya akan mencoba kembali bisnis-bisnis tersebut, saya sudah menjadi lebih siap jika dibandingkan kala itu. Satu hal yang saya tahu, saya nggak pernah takut untuk mencoba. 

Saya sadar bahwa ketika saya hanya “ingin, ingin, ingin” dan hanya berucap (baca: ngomong doang), saya tidak akan mencapai apa pun yang ingin saya capai. Anda harus berani mengambil langkah pertama alias mencoba. Kalau ternyata di tengah jalan gagal, so what? Life goes on, analisis apa yang terjadi, belajar, dan coba lagi! See you ON TOP! 

Jumat, 17 Mei 2013

Sukses dan Hidup = Berkembang


Sukses dan Hidup = Berkembang
Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara;
Director PT Jakarta International Management; Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 17 Mei 2013

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengardi berbagai kesempatan saat saya menjadi pembicara ketika diundang seminar, training, workshop adalah, “Mas Billy, apa arti sukses menurut Mas Billy?” 

Mendengar pertanyaan demikian, saya sering kali bertanya kepada diri saya sendiri di dalam hati, “Kenapa mereka ingin tahu apa arti sukses menurut saya? Apa pentingnya? Apakah definisi sukses menurut saya akan berpengaruh terhadap mereka?” Secara umum, arti sukses menurut saya adalah ketika seseorang berhasil melakukan atau meraih apa yang telah dia targetkan atau inginkan di awal. 

Misal, ketika Anda mau pergi ke mal. Sesampainya di mal, kamu telah sukses (mencapai tujuan yang kamu inginkan). Saya selalu bilang bahwa arti sukses menurut seseorang, belum tentu sama dengan arti sukses menurut orang lain. Bisa saja, menurut si A, dia baru sukses kalau dia bekerja di perusahaan besar dan mendapatkan gaji Rp5 juta per bulan. 

Apakah hal tersebut adalah arti sukses menurut si B? Belum tentu, mungkin saja si B merasa dia sukses kalau mendapatkan gaji Rp10 juta per bulan. Mungkin si C baru akan merasa sukses apabila dia adalah seorang entrepreneur yang memiliki penghasilan Rp50 juta per bulan, dan seterusnya. 

Sukses dari Hal-hal Kecil 

Rata-rata, semua orang ketika mengartikankesuksesanitu dari hal-hal besar. Si A itu orang yang sukses lohkarena dia punya rumah besar, punya perusahaan, dan seterusnya. Ini yang sering kali dijadikan barometer kesuksesan seseorang di masyarakat. Apakah salah? Hmm, terserah saja sih mau mengukur kesuksesannya seperti apa. Namun, kalau menurut saya, sukses itu juga harus dilihat dari hal-hal kecil. 

Pasti pernah dengar dong pepatah yang mengatakan, “Hal-hal besar terdiri dari hal-hal kecil.” Nah, coba deh untuk mengapresiasi pencapaian-pencapaian kecil Anda setiap hari. Semisal Anda berhasil datang on time di sebuah rapat dengan klien, sadarilah hal “kecil” tersebut, dan berbanggalah. Kenapa? Karena Anda telah sukses dalam konteks tersebut. Kalau Anda hari ini berhasil bangun pagi, dan pergi ke gym, sadarilah dan berbanggalah. 

Karena mungkin ada jutaan orang yang hanya “ingin, ingin, dan ingin” tapi selalu gagal pergi ke gym. Kalau Anda menargetkan diri Anda untuk membaca satu buku per bulan, dan Anda berhasil melakukannya, sadarilah dan berbanggalah. Get my point? 

Sukses Jangan Satu 

Ketika menjelaskan arti sukses menurut saya, saya akan selalu berpesan bahwa jangan pernah hanya memiliki satu arti sukses. Maksudnyaapa? Sebagai Generasi Semangat Baru, kita semua harus memiliki mimpi lebih dari satu. Mimpi kan gratis, kenapa harus punya satu mimpi? Maksudnya apa? Kebanyakan orang akan bilang kepada dirinya sendiri, “Saya akan bisa dikatakan sukses, kalau saya sudah menjadi seorang CEO.” 

Apakah ini salah? Tidak. Tapi, kenapa hanya memasang satu target? Kenapa Anda tidak bilang ke diri sendiri, “Saya akan bisa dikatakan sukses kalau saya berhasil menjadi seorang CEO, dan pada saat yang bersamaan, saya adalah suami/istri yang baik, ayah/ibu yang baik bagi anak-anak saya, hidup sehat, dan punya sebuah panti asuhan.” Apa pun target Anda, pastikan jangan hanya satu! Kalau bisa meraih banyak hal, kenapa harus membatasi diri untuk hanya meraih satu hal dalam hidup ini? 

Sukses seperti Hidup 

Apa maksud dari subjudul ini? Tahu apa bedanya makhluk hidup dan benda mati? Hmm, yang membedakan kedua hal ini adalah, makhluk hidup itu bernapas dan berkembang, sedangkan kalau benda mati tidak bernapas, dan tidak berkembang. Sukses pun demikian. Jangan pernah merasa puas. Ketika Anda sekarang adalah seorang supervisor di kantor tempat Anda bekerja, dan arti sukses Anda adalah ketika suatu saat Anda berhasil dipromosikan untuk menjadi seorang manajer. 

Untuk mencapai hal ini, Anda pun berusaha semaksimal mungkin, hingga akhirnya Anda dipromosikan atasan Anda untuk menjadi seorang manajer. Nah, ketika arti sukses Anda sudah tercapai, apa yang harus Anda lakukan? Banyak orang akan terlena. Mereka merayakan pencapaiannya, tapi bukan dalam semalam atau seminggu, tapi bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidup. 

Kalau ini yang Anda lakukan, ya jangan salahkan orang lain atau keadaan kalau Anda seumur hidup “hanya” menjadi seorang manajer. Menurut saya, sukses dan hidup itu seharusnya memiliki karakter yang sama, yaitu harus terus berkembang dari waktu ke waktu. Apa maksudnya? Kalau Anda ingin menjadi seorang manajer, dan kemudian arti sukses Anda itu sudah tercapai, seharusnya arti sukses Anda itu juga berkembang. 

Kenapa tidak untuk bilang kepada diri Anda, “Sekarang saya sudah menjadi seorang manajer. Bagi saya sekarang, saya baru akan sukses kalau saya suatu hari menjadi seorang direktur.” Sayangnya, arti sukses yang berkembang ini sering kali diidentifikasi sebagai karakter orang yang tidak bersyukur. Saya sangat tidak setuju. Menurut saya, tidak pernah puas (dan ingin berbuat dan mencapai hal yang lebih besar lagi) dan tidak bersyukur itu dua hal yang berbeda. 

Bisa enggak kalau Anda merasa bersyukur atas pencapaian Anda selama ini? Anda telah menjadi seorang manajer, namun Anda merasa tidak puas, Anda ingin berkontribusi lebih terhadap perusahaan dengan harapan agar Anda diberikan kepercayaan dan tanggung jawab lebih untuk mengemban tugas yang lebih besar sebagai seorang direktur. Salahkah apabila ini yang Anda rasakan dan lakukan? 

Pada tahun 2006 akhir, saya mulai menulis buku Young On Top. Ketika dalam proses menulis buku ini, arti sukses buat saya waktu itu adalah ketika buku ini selesai ditulis, diterbitkan oleh penerbit, dan terpampang di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Proses penulisannya memakan waktu hingga sekitar dua setengah tahun. Ketika buku ini akhirnya selesai ditulis, diterbitkan, dan ada di seluruh toko buku di Indonesia, arti sukses menurut saya sebagai seorang penulis sudah tercapai kan? 

Saya sudah sukses (untuk konteks tersebut). Tebak apa yang terjadi setelah itu? Arti sukses menurut saya sebagai seorang penulis pun berkembang. Saya bilang kepada diri saya sendiri, “Kalau buku Young On Topbisa menjadi best seller, baru saya bisa dikatakan sebagai penulis yang sukses.” Dan, ketika buku ini menjadi best seller selama lebih dari satu setengah tahun nonstop, arti sukses buat saya pun kembali berkembang. 

Saya merasa bahwa Young On Top harus menjadi lebih besar daripada hanya sebuah buku. Arti sukses yang terus berkembang dalam konteks saya sebagai penulis buku inilah yang terus memacu diri saya untuk terus berusaha mencapai arti sukses tersebut. Dan inilah yang membuat Young On Top sekarang bukan lagi hanya sebuah buku, tapi sebuah brand, yang meliputi program radio, program TV, serial buku, mentorship program, komunitas di 36 kota, training (academy), media digital, dan konsultan. 

Kalau bisa sukses kala usia muda, kenapa harus menunggu tua? Kalau bisa punya beberapa arti sukses yang terus berkembang dari waktu ke waktu, kenapa tidak? See you ON TOP! 

Kamis, 09 Mei 2013

Apakah Sukses Sebuah Kebetulan?


Apakah Sukses Sebuah Kebetulan?
Billy Boen ;  CEO PT YOT Nusantara; Director PT Jakarta International Management; Shareholder, Rolling Stone Café
KORAN SINDO, 10 Mei 2013
  

Saya cukup yakin kita semua sudah sering dengar nasihat entah dari orang tua, guru, atau dari orang-orang yang lebih tua dan berpengalaman dari kita, bahwa untuk mencapai sebuah kesuksesan itu perlu kerja keras dan harus pantang menyerah. 

Tapi, apakah kalau kita sudah kerja keras dan memiliki karakter pantang menyerah lantas kita pasti sukses? Jawabannya, “Tidak.” Tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mutlak. Tidak ada satu pun cara jitu untuk sukses. Meski ada puluhan atau bahkan ratusan buku yang “menjanjikan” kesuksesan dengan instan, tidak ada satu pun yang berani menjamin pembacanya akan sukses setelah membaca buku tersebut sampai habis. 

Begitu juga seminar-seminar motivasi dengan tema yang fantastis, sang penyelenggara juga pasti tidak akan berani untuk menjanjikan apa-apa. Lalu, bagaimana supaya kita bisa mencapai kesuksesan di dalam hidup ini? Apa yang kita perlukan selain kerja keras dan pantang menyerah? Kita perlu yang namanya faktor keberuntungan. Mungkin ada ribuan contoh nyata yang menggambarkan betapa kerasnya usaha yang telah dilakukan, dan dengan pantang menyerah, namun mereka belum juga sukses. Biasanya, kalau hal ini terjadi pada teman kita, kita akan bilang, “Sabar. 

Dewi Fortuna (keberuntungan) belum menghampiri saja. Usaha lagi ya.” Nah, pertanyaannya: Bagaimana kita bisa mengatur keberuntungan kita? Apakah keberuntungan bisa diatur? Ada yang berpendapat keberuntungan itu tidak bisa diatur, tapi ada juga yang bilang bahwa keberuntungan itu bisa dipengaruhi. Maksudnya apa? Pernah dengar quote terkenal dari Oprah Winfrey yang mengadopsi quote dari Seneca, seorang filsuf Roman abad pertama, “Luck is when opportunity meets preparation”? Saya setuju dengan pernyataan ini. 

Karena memang pada kenyataannya, sering kali mereka yang “siap” yang akan mendapatkan kesempatan. Siap dalam arti apa? Siap di sini meliputi kesiapan ilmu, kesiapan mental, dan kesiapan wawasan. Jangan heran, kalau karena kesiapannya inilah yang membuat seseorang bisa melihat kesempatan, atau yang lebih kita sering juga sebut sebagai peluang. Nah, biasanya ketika seseorang berhasil mengambil peluang yang ada, saat itulah dia dianggap beruntung (lucky). 

Padahal, apakah dia berhasil hanya karena dia beruntung? Atau, karena sesungguhnya dia memang siap ilmu, siap mental, memiliki wawasan yang luas, dan mampu melihat peluang serta cekatan dalam mengambil peluang tersebut? Buat mereka yang tidak terlatih melihat peluang (tidak siap) ya jelas saja tidak akan tahu bahwa ada peluang. Dan saat inilah yang sering dikatakan orang, “Anda belum beruntung.

” Padahal, apakah ini hanya karena faktor keberuntungannya yang tidak memihak dia, atau karena dia memang tidak siap? Lalu, kenapa judul tulisan ini “(Apakah) Sukses Sebuah Kebetulan?” Saya telah berbincang dengan kurang lebih 200 CEO, direktur, maupun general manager di program radio maupun di program TV “Young On Top”. Dan, hampir seluruhnya, ketika saya tanya, “Apa yang membuat Anda bisa sukses seperti sekarang?”, jawaban mereka, “Ah, saya beruntung.

” Menurut saya, sukses itu bukan sebuah keberuntungan, bukan sebuah kebetulan. Tapi apakah ada faktor keberuntungan di dalam sebuah kesuksesan seseorang? Jawabannya, “Tentu!” Lalu, kenapa orang-orang sukses selalu mengatakan bahwa mereka beruntung? Menurut saya, yang pasti karena mereka sadar bahwa faktor keberuntungan itu ada di dalam perjalanan mereka dalam menuju kesuksesan, dan mereka tidak mau sesumbar bahwa semua kesuksesannya secara keseluruhan adalah hasil kerja kerasnya semata. 

Sejujurnya, ketika karier saya melejit layaknya sebuah roket, saya sempat berpikir bahwa semua kesuksesan yang saya dapatkan adalah 100% karena kerja keras saya. Namun semakin saya merenung dan menganalisis apa yang saya lalui, saya semakin sadar bahwa memang faktor keberuntungan itu ada di sepanjang perjalanan karier saya. Kalau saya tidak memiliki orang tua yang pengertian dan mampu mengarahkan saya, mungkin saya tidak akan memiliki karakter yang baik. 

Kalau saya tidak memiliki kesempatan sekolah di luar negeri hingga S-2 mungkin saya tidak memiliki pola pikir yang terbuka. Kalau di pekerjaan pertama, saya tidak memiliki atasan yang baik, mungkin saya tidak belajar sebanyak yang saya dapatkan kala itu. Dan, masih ada ribuan keberuntungan lainnya. Terlepas dari faktor keberuntungan itu benar ada, saya tetap berpendirian bahwa faktor keberuntungan itu tidak bisa sepenuhnya kita kontrol. 

Kalau kita “siap”, kita punya kesempatan untuk beruntung. Ini sudah kita bahas di atas. Tapi, kalau kita siap, apakah kita pasti beruntung, kanjelas tidak. Jadi, karena keberuntungan itu tidak bisa kita atur, maka saya selalu bilang: Tidak usah pusingin apa yang tidak bisa kita kontrol, fokus saja ke apa yang bisa kita lakukan. Tidak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang kaya karena pure luck, entah karena menang lotre, atau dapat hibah dari orang tua. 

Pertanyaannya: Pernah dengar cerita di mana mereka yang kaya namun tidak siap secara mental, uangnya habis juga pada akhirnya? Kalau ini yang terjadi, apakah bisa dibilang mereka sukses? Ingat, apa yang didapat dengan mudah, juga akan hilang dengan mudah. Kenapa? Karena secara psikologis, manusia akan kurang menghargai apa yang dia dapatkan dengan mudah (tanpa kerja keras). Kalau bahasa Inggrisnya: Easy come, easy go. Menjadi kaya, bisa karena kebetulan. Kalau menjadi sukses, saya rasa tidak ada yang kebetulan. Mau sukses? Tidak ada jalan lain kecuali dengan berusaha keras dan pantang menyerah. See you ON TOP!