Minggu, 23 Maret 2014

Sinbad si Pelaut

Sinbad si Pelaut

Sarlito Wirawan Sarwono  ;   Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KOMPAS,  23 Maret 2014
                                      
                                                                                         
                                                      
Pernah dengar cerita tentang Sinbad si Pelaut? Ini dia salah satunya. Nona dan Abi adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mereka tinggal di suatu daerah yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang penuh dengan buaya.

Meskipun tempat tinggal mereka dipisahkan oleh sungai itu, mereka dapat saling berkunjung melalui jembatan kecil. Pada suatu hari terjadi badai besar yang meruntuhkan dan menghanyutkan jembatan tersebut. Pasangan kekasih itu sangat menderita oleh karenanya. Lenyaplah satu-satunya cara untuk bertemu. Nona berdiri di tepi sungai setiap hari, menantikan terjadinya mukjizat.

Pada suatu hari Sinbad, seorang pelaut, berlayar di sepanjang sungai itu mendekati tempat tinggal Nona. Gadis itu memanggilnya dan meminta mengantarkan ke seberang sungai untuk menjumpai Abi. Sinbad merasa gembira atas permintaan itu dan berkata: ”Tentu saja! Saya akan dengan senang hati membawamu ke seberang tetapi ada syaratnya, kau harus tidur denganku dulu!” Nona menangis mendengar syarat yang diajukan Sinbad. Dia belum pernah berhubungan seks dengan siapa pun.

Dia memutuskan untuk meminta nasihat seorang teman yang bernama Iwan. Ternyata Iwan bersikap acuh tak acuh dan dingin terhadap persoalan ini. Dia hanya berpangku tangan dan berkata kepada Nona : ”Itu urusanmu, saya tak ingin terlibat.” Jawaban Iwan yang begitu dingin membuat Nona berpikir berkali-kali mengenai masalah yang dihadapinya itu. Akhirnya Nona memutuskan untuk memenuhi tuntutan Sinbad.

Ketika akhirnya Nona bertemu dengan Abi pada hari berikutnya, diceritakannya kepada Abi semua yang telah terjadi dan bagaimana sulitnya dia berjuang untuk membuat keputusan ini. Abi sangat marah atas apa yang telah dilakukan oleh Nona dan dia mengusir gadis itu supaya tidak kembali lagi. Gadis yang malang itu berlutut dan merangkul Abi sambil menangis, memohon supaya Abi tidak meninggalkannya, tetapi anak muda itu tidak menghiraukannya.

Maka Nona pergi kepada teman lainnya yang bernama Badi. Setelah diceritakan kisahnya dari awal sampai akhir, Badi memutuskan untuk menemui Abi, dia menghajar Abi habis-habisan, bagaimanapun, mengapa seorang seperti Abi sampai hati memperlakukan gadis semanis Nona sedemikian rupa?

Setelah membaca kisah Sinbad di atas, cobalah menjawab pertanyaan ini: dari kelima orang itu, siapakah yang Anda anggap paling salah? Buatlah urutan (peringkat) dari kelima orang itu berdasarkan berat ringannya kesalahan masingmasing berikut alasan-alasan mengapa Anda sampai pada urutan demikian? Ambil waktu sejenak untuk memikirkan jawaban Anda sebelum melanjutkan membaca tulisan ini.

Saya percaya bahwa Anda semua bisa menjawab pertanyaan-petanyaan di atas. Apa pun alasan Anda, tidak sulit mengurutkan siapa yang bersalah berdasarkan kriteria Anda sendiri. Misalnya, Anda pikir Sinbadlah yang paling kurang ajar karena dia sudah melanggar norma agama dan menyalahi UU Hak Asasi Perawan.

Tapi cobalah Anda minta beberapa orang lain untuk menjawab pertanyaan yang sama. Anda akan tercengang mengetahui bahwa ada orang yang menyatakan Nonalah yang paling salah karena dia tidak mampu menjaga dirinya sendiri, tidak beriman, tidak bertakwa. Sementara Sinbad hanya seorang pedagang, wajarlah kalau dia meminta imbalan atas jasa yang sudah diberikannya.

Dan Anda akan lebih tercengang lagi ketika ada yang menyalahkan Iwan yang cuek saja dan tidak mau membantu untuk mengatasi masalah Nona. Kalau Iwan mau membantu, misalnya dengan menemani Nona menyeberang dengan kapal Sinbad dan membayari ongkos penyeberangan kepada Sinbad, maka Nona tidak akan diperkosa Sinbad, Abi akan berterima kasih kepada Iwan, dan Badi tidak perlu memukuli Iwan sampai berdarah-darah.

Demikianlah seterusnya. Makin banyak orang, makin banyak juga pendapat dan alasanalasannya. Masalah akan timbul jika orang-orang yang banyak itu harus mencari kesepakatan mana yang paling salah dan mana yang paling benar dalam cerita Sinbad tersebut.

Saya menemukan dalam banyak diskusi kelompok untuk mencari kesepakatan atas persoalan Sinbad ini (biasa dilakukan dalam pelatihan-pelatihan kerja sama kelompok), pencapaian kesepakatan itu sangat alot, bahkan ada yang sampai menunjuk-nunjuk lawan diskusinya atau bahkan menggebrak meja saking marahnya gara-gara sama-sama ngotot tidak mau mengalah tentang siapa yang paling salah.

Sebaliknya ada peserta yang selama diskusi diam saja dan ikut saja dengan pendapat orang. Ketika ditanya dalam evaluasi pascadiskusi, peserta yang diam itu menyatakan bahwa ia mengalah saja supaya diskusi cepat selesai, padahal sebenarnya dongkol kepada peserta yang paling vokal, yang menurutnya sombong banget, dan semua orang nurut sama dia, padahal pendapatnya salah.

Nah, kalau diskusi yang sama terjadi bukan dalam kelompok kecil, melainkan antarseluruh eksponen bangsa dan isunya bukan tentang Sinbad, tetapi tentang siapa yang salah sehingga banyak anggota DPR/D dan oknum pemerintah korupsi, diskusinya tidak akan selesai-selesai. Yang satu akan menyalahkan yang lain dan solusinya juga akan berbeda-beda.

Ada yang menyarankan hukuman mati buat semua koruptor (dengan cara digantung di Monas), ada yang menyarankan Wakil Presiden dilengserkan saja karena dialah biang korupsi dalam kasus Bank Century (walaupun sebentar lagi dia pun akan lengser sendiri), ada lagi yang mau menegakkan hukum syariah (harga mati!), tetapi ada juga yang menyalahkan KPK, karena itu KPK dibubarkan saja!

Namun jika diskusi berlarut-larut terus, bahkan dikompori terus melalui debat-debat di media massa supaya seru untuk mencapai rating yang tinggi, kapan kita akan mulai bekerja? Pada suatu titik demokrasi harus diikat dengan kesimpulan yang jelas dan tegas (walaupun mungkin belum tentu sepenuhnya benar) sehingga kita semua bisa mulai bekerja untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Kalau tidak, kita akan terus berputar-putar, jalan di tempat, sementara negara-negara di sekitar kita sudah melesat maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar